Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Foto: Anadolu
Arab Saudi Tolak Tawaran Israel Bergabung dalam Perang Lawan Houthi
Fajar Nugraha • 13 October 2026 11:05
Riyadh: Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah menolak upaya Israel untuk bergabung dalam operasi militer melawan kelompok Houthi di Yaman.
Surat kabar Israel, Haaretz, pada Senin 12 Oktober 2026 menyebutkan bahwa Israel berupaya untuk mendapatkan persetujuan Riyadh melalui mediasi Amerika Serikat (AS).
Surat kabar harian tersebut, yang mengutip sumber diplomatik anonim, menyebutkan bahwa
“Putra mahkota tidak tertarik pada bantuan militer Israel karena khawatir kerja sama dengan Israel dapat memicu reaksi negatif di kalangan masyarakat Saudi,” sebut surat kabar harian tersebut, yang mengutip sumber diplomatik anonim, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa 13 Oktober 2026.
Sumber lain yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa Israel berharap kerja sama militer dengan Arab Saudi dapat memperkuat hubungan bilateral dan membuka jalan bagi kesepakatan normalisasi di masa depan.
Belum ada komentar langsung dari pihak berwenang Saudi terkait laporan tersebut.
Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan tetap berpegang pada pendirian bahwa normalisasi hubungan bergantung pada penyelesaian masalah Palestina, termasuk pembentukan negara Palestina.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi, termasuk serangan berulang kali ke bandara yang telah menimbulkan korban jiwa dan mengganggu penerbangan.
Sebuah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada hari Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya.
Serangan lain di bandara yang sama pada hari Minggu menewaskan seorang warga Pakistan dan melukai 11 orang lainnya, menurut Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi.
Eskalasi ini bermula pada bulan Juli setelah periode ketenangan relatif menyusul diberlakukannya gencatan senjata yang ditengahi PBB pada April 2022.
Yaman telah dilanda perang sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan beberapa provinsi pada September 2014, sebelum koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.