Tiongkok Desak Israel Hentikan Pembangunan Permukiman Ilegal di Tepi Barat

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Foto: Metrotvnews.com

Tiongkok Desak Israel Hentikan Pembangunan Permukiman Ilegal di Tepi Barat

Muhammad Reyhansyah • 16 October 2026 22:34

Baku: Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mendesak Israel menghentikan dan membatalkan pembangunan secara paksa permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Jumat, 16 Oktober 2026, desakan tersebut disampaikan kepada Presiden Israel Isaac Herzog dalam pertemuan di Azerbaijan.

"Tiongkok secara konsisten memandang persoalan Palestina sebagai ketidakadilan historis terbesar abad ini," kata Wang dalam pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera.

Wang menegaskan bahwa solusi dua negara merupakan jalan yang tepat untuk menyelesaikan persoalan Palestina. 

Ia juga menyebut pembukaan penuh akses ke Jalur Gaza sebagai prioritas mendesak agar bencana kemanusiaan tidak semakin meluas.

Wang menambahkan bahwa Tiongkok bersedia bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendorong seluruh pihak kembali berdialog sesegera mungkin dan mengupayakan penyelesaian politik.

Menurut laporan kantor berada Xinhua, Wang berada di Baku untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketujuh Conference on Interaction and Confidence-Building Measures in Asia sebagai utusan khusus Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Tiongkok Dorong Kerangka Baru Timur Tengah

Pada September, Xi mengunjungi Kairo untuk pertama kalinya dalam satu dekade dan menyerukan negara-negara Timur Tengah menentang pengaruh eksternal serta mempertimbangkan penataan ulang tatanan keamanan kawasan.

Kunjungan yang jarang dilakukan tersebut berlangsung ketika Beijing berupaya memperluas pengaruhnya di Timur Tengah di tengah perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Pembicaraan Xi dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi turut membahas perang tersebut. Menurut pernyataan juru bicara el-Sisi, kedua pemimpin menyerukan “solusi diplomatik” untuk mencapai “kesepakatan menyeluruh guna mengakhiri perang”.

Pada Maret, Tiongkok mengkritik serangan AS dan Israel terhadap Iran serta mendesak penghentian segera serangan gabungan tersebut.

Wang sebelumnya mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar bahwa serangan terhadap Iran terjadi ketika perundingan antara Washington dan Teheran telah “mencapai kemajuan signifikan, termasuk dalam menangani kekhawatiran keamanan Israel”, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok setelah perang dimulai.

Beijing Pertahankan Hubungan Regional

Menurut US-China Economic and Security Review Commission, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Iran dan membeli hingga 90 persen minyak Iran. Pada 2021, Beijing dan Teheran menandatangani perjanjian “kemitraan strategis komprehensif” selama 25 tahun.

Pada saat yang sama, Beijing selama satu dekade terakhir mempererat hubungan dengan negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Tiongkok juga tetap menjadi salah satu mitra dagang utama Amerika Serikat dan Israel.

(Fajar Nugraha)