Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Trump Bantah Tawarkan Keringanan Sanksi kepada Iran demi Konsesi Nuklir
Muhammad Reyhansyah • 29 September 2026 10:12
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah laporan bahwa Washington siap menawarkan keringanan sanksi dan membantu pencairan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas konsesi dalam program nuklir Teheran.
“Ini tidak benar. Saya TIDAK menawarkan apa pun kepada mereka,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social, dikutip dari India Today, Selasa, 29 September 2026.
Trump menanggapi laporan Axios yang mengutip pejabat AS mengenai kemungkinan Washington memberikan keringanan ekonomi jika Iran membuat komitmen konkret terkait aktivitas nuklirnya.
Bantahan Trump disampaikan ketika diplomasi tidak langsung antara Washington dan Teheran terus berlangsung melalui mediator Qatar dan Pakistan. Kedua negara mediator tersebut berupaya membantu mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik Iran-AS yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
Aktivitas diplomatik kembali meningkat di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York.
Pejabat yang mengetahui pembicaraan mengatakan pejabat AS dan Iran melakukan pertemuan terpisah dengan para mediator pada Senin sebagai bagian dari upaya mencari jalan untuk mengakhiri konflik.
Mediator Qatar bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas sejumlah proposal yang telah dinegosiasikan dalam beberapa hari terakhir. Kontak terpisah dengan pejabat pemerintahan Trump juga diperkirakan berlangsung ketika mediator berupaya mempersempit perbedaan kedua pihak.
Seorang pejabat AS menggambarkan pembicaraan tidak langsung tersebut sebagai “positif dan konstruktif”, tetapi mengatakan masih terdapat kesenjangan besar, terutama mengenai isu nuklir dan urutan pelaksanaan komitmen.
Selat Hormuz Jadi Hambatan
Iran dan AS masih berbeda pandangan mengenai isu utama yang harus diselesaikan dalam kesepakatan.Iran ingin negosiasi mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade laut AS, serta keringanan sanksi. Sementara itu, pemerintahan Trump menegaskan bahwa kesepakatan harus mencakup pembatasan berarti terhadap aktivitas nuklir Iran.
Pejabat AS mengatakan Washington tetap berfokus memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir dan mengaitkan kemajuan negosiasi dengan penyelesaian kekhawatiran mengenai program nuklir Teheran.
Gedung Putih juga menyatakan skeptis terhadap niat Iran dengan alasan kesepahaman sebelumnya runtuh setelah serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran Tunggu Respons Resmi AS
Iran mengatakan masih menunggu tanggapan resmi Washington terhadap proposal terbarunya.Araghchi, yang tetap berada di New York setelah menghadiri Sidang Umum PBB, mengatakan Teheran telah menyampaikan gagasannya dan mengharapkan posisi AS yang jelas sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Jika Amerika mengklaim mereka menginginkan kesepakatan atau solusi damai, kami telah menyampaikan solusi tersebut,” kata Araghchi, seperti dikutip media pemerintah Iran.
Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan bergantung pada hasil negosiasi dan pemenuhan sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.
Upaya diplomatik terbaru diperkirakan berfokus pada versi revisi proposal tujuh hari yang disampaikan Iran dalam Sidang Umum PBB.
Menurut pejabat yang mengetahui negosiasi, proposal tersebut mencakup penghentian permusuhan, pencairan aset Iran yang dibekukan, keringanan sanksi terhadap ekspor minyak Iran, serta pencabutan pembatasan terhadap pelabuhan Iran.
Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan pembahasan mengenai program nuklirnya.
Trump mengatakan pada akhir pekan bahwa dirinya telah menolak proposal Iran yang lebih luas dengan alasan Teheran berada di bawah tekanan ekonomi yang semakin besar. Namun, dia juga mengindikasikan bahwa negosiasi lanjutan dapat berlangsung pekan ini.
Dengan mediator yang terus berupaya menjembatani kedua pihak, Iran dan AS masih memiliki perbedaan besar dalam sejumlah isu utama meski kontak diplomatik di antara keduanya semakin intensif.
Baca juga: Mediator Tekan Iran soal Program Nuklir untuk Pulihkan Perundingan dengan AS