Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Berpeluang Naik Seiring Sinyal Bullish yang Kuat
Eko Nordiansyah • 8 April 2026 11:27
Jakarta: Pergerakan harga emas dunia diperkirakan berpotensi melanjutkan tren penguatan, seiring munculnya sinyal teknikal yang semakin solid serta dukungan dari sentimen fundamental global.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures, XAU/USD saat ini menunjukkan kecenderungan bullish pada timeframe H4, setelah berhasil menembus area resistance krusial yang sebelumnya menjadi penghalang kenaikan harga.
"Keberhasilan breakout tersebut dinilai sebagai indikasi awal terbentuknya tren naik baru atau primary uptrend dalam pergerakan emas," kata analis Geraldo Kofit dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 April 2026.
Dalam kondisi seperti ini, pasar umumnya menunjukkan minat beli yang meningkat, seiring bertambahnya keyakinan pelaku pasar terhadap potensi kenaikan lanjutan. Meski demikian, Geraldo menekankan pergerakan harga tidak selalu berlangsung secara linier, sehingga potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diantisipasi.
Secara teknikal, peluang koreksi tersebut justru dapat dimanfaatkan sebagai titik masuk yang lebih optimal. Dalam analisisnya, area Fibonacci retracement 61,8 persen menjadi zona ideal yang patut dicermati oleh pelaku pasar.
"Level ini dikenal sebagai golden ratio yang kerap menjadi titik pantulan harga sebelum melanjutkan tren utama. Dengan kata lain, koreksi menuju area tersebut dapat membuka peluang bagi harga emas untuk kembali menguat dengan momentum yang lebih sehat," ungkap dia.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)
Sinyal bullish semakin terkonfirmasi
Harga emas saat ini tercatat berada di atas Moving Average 21 dan 34, yang mengindikasikan tren jangka menengah masih bergerak dalam jalur kenaikan. Posisi harga di atas kedua indikator tersebut umumnya mencerminkan dominasi tekanan beli di pasar.Sementara itu, indikator Stochastic menunjukkan posisi di area overbought dan masih mengarah ke atas. Kondisi ini menandakan bahwa momentum beli masih cukup kuat, meskipun secara teknis juga mengisyaratkan adanya potensi koreksi dalam waktu dekat.
"Koreksi tersebut dipandang sebagai bagian dari dinamika pasar yang wajar, bukan sebagai sinyal pembalikan tren," kata dia.
Dari perspektif fundamental, pergerakan bullish emas turut didukung oleh sejumlah faktor global. Salah satunya adalah potensi pelemahan dolar Amerika Serikat apabila data ekonomi menunjukkan perlambatan. Indikasi seperti menurunnya inflasi atau melemahnya pasar tenaga kerja dapat menekan nilai dolar, yang pada akhirnya menjadi katalis positif bagi harga emas.
Selain itu, ekspektasi terhadap kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi faktor pendukung utama. Ketika suku bunga cenderung turun, daya tarik emas sebagai instrumen investasi meningkat karena tidak bersaing langsung dengan aset berbunga. Hal ini dapat mendorong aliran dana masuk ke pasar emas.
Ketidakpastian global masih membayangi pasar
Permintaan terhadap aset safe haven juga diperkirakan tetap tinggi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar. Baik faktor geopolitik maupun kondisi ekonomi global yang belum stabil dapat meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memberikan ruang bagi kenaikan harga emas. Ketika yield obligasi menurun, opportunity cost untuk memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga logam mulia ini menjadi lebih menarik bagi investor.
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures menilai tren bullish emas masih memiliki ruang untuk berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, pelaku pasar tetap disarankan untuk memperhatikan potensi koreksi sebagai bagian dari strategi trading yang lebih terukur.
"Secara keseluruhan, prospek harga emas hari ini cenderung positif, dengan peluang kenaikan yang tetap terbuka selama harga mampu bertahan di atas area support kunci. Momentum bullish yang terbentuk pasca-breakout menjadi sinyal penting arah pergerakan emas saat ini masih didominasi oleh sentimen positif, meskipun volatilitas jangka pendek tetap tidak dapat dihindari," ujar dia.