Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Foto: Press TV
Iran Peringatkan Trump Akan Beri Pelajaran yang Lebih Besar
Fajar Nugraha • 13 April 2026 10:43
Teheran: Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa bangsa Iran telah membuktikan tidak akan tunduk pada ancaman Amerika Serikat (AS).
Qalibaf memperingatkan bahwa Teheran siap memberikan pelajaran yang lebih besar jika kembali dikonfrontasi oleh pihak lawan.
Pernyataan tersebut disampaikan Qalibaf setibanya di Teheran dari Islamabad, Pakistan, setelah memimpin delegasi tingkat tinggi Iran dalam perundingan dengan Amerika Serikat. Qalibaf menyampaikan apresiasi kepada tim negosiasi dan para jurnalis yang dinilainya berhasil menangkal "operasi psikologis" yang dilancarkan oleh pihak musuh selama proses pembicaraan berlangsung.
Secara khusus, Qalibaf memberikan pesan langsung kepada Trump bahwa Iran akan memberikan respons yang sepadan, baik terhadap konfrontasi maupun dialog.
“Jika Anda memilih perang, kami akan melawan Anda, dan jika Anda maju dengan logika, kami akan memperlakukan Anda secara logis. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Ujilah tekad kami sekali lagi, agar kami bisa memberi Anda pelajaran yang lebih besar,” tegas Qalibaf, seperti dikutip dari Press TV, Senin, 13 April 2026.
Ia menegaskan kembali bahwa satu-satunya jalan keluar bagi Amerika Serikat adalah dengan memutuskan untuk membangun kembali kepercayaan dengan Iran. Washington dinilai memiliki utang kepada rakyat Iran dan harus berupaya menebus tindakan-tindakan salah yang dilakukan di masa lalu.
Qalibaf juga mencatat bahwa aksi unjuk rasa nasional yang mendukung Republik Islam Iran sejak dimulainya agresi AS-Israel pada akhir Februari telah memperkuat posisi tawar negara dalam perundingan di Islamabad. Ia berterima kasih kepada rakyat Iran atas kehadiran mereka yang masif di jalanan karena hal tersebut memperkuat kemampuan tim negosiasi dalam membela kepentingan nasional.
Sulit percaya AS
Delegasi Iran kembali ke Teheran setelah menjalani 21 jam negosiasi intensif dengan tim negosiator AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance. Iran setuju untuk berpartisipasi dalam pembicaraan tersebut setelah pejabat Amerika memberi sinyal bahwa mereka menerima syarat umum Iran untuk mengakhiri perang melalui proposal 10 poin yang diajukan sebelumnya.Perundingan dimulai di Islamabad pada Sabtu pekan lalu, beberapa hari setelah Pakistan mengusulkan gencatan senjata selama dua minggu untuk memberi ruang bagi diplomasi. Namun, diskusi tersebut berakhir pada Minggu pagi tanpa mencapai kesepakatan, di mana pihak Iran menyalahkan adanya tuntutan berlebihan dari pihak Amerika.
Qalibaf menggambarkan jalannya pembicaraan sebagai sesi yang intens, serius, dan penuh tantangan, meskipun negosiator Iran telah mempresentasikan beberapa inisiatif sebagai bentuk itikad baik. Ia mengakui bahwa membangun kepercayaan dengan Amerika Serikat adalah tugas yang sulit dan memakan waktu karena sejarah panjang Washington yang sering melanggar komitmennya.
Sebagai contoh terbaru, ia menyinggung serangan AS terhadap Iran sebanyak dua kali selama setahun terakhir di tengah pembicaraan diplomatik mengenai program nuklir Teheran. Menurut Qalibaf, bola kini berada di tangan Washington untuk mengambil langkah nyata guna menghancurkan tembok ketidakpercayaan selama 77 tahun antara kedua negara.
Menutup pernyataannya, Ketua Parlemen Iran tersebut menegaskan bahwa negaranya akan tetap melanjutkan "jalur menuju kesuksesan" secara mandiri. Iran akan terus mengandalkan kemampuan domestik dalam menghadapi dinamika politik internasional.
(Kelvin Yurcel)