Kabut asap dengan jarak pandang sekitar 1000 meter menutup kawasan Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, Kamis, 20 Agustus 2026. ANTARA/HO-Bandara Muhammad Sidik
Kabut Asap Karhutla, Aktivitas Bandara Muara Teweh Lumpuh Sebulan
Lukman Diah Sari • 17 September 2026 18:31
Muara Teweh: Penerbangan dari dan ke Bandara Haji Muhammad Sidik (HMS) Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah (Kalteng), terpaksa dibatalkan selama satu bulan terakhir. Hal ini imbas pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Hari ini, telah satu bulan penerbangan ke Muara Teweh dibatalkan, akibat kabut asap kembali tebal," kata Kepala Bandara HMS Muara Teweh, Muhammad Amrillah K, di Muara Teweh, Kamis, 17 September 2026, melansir Antara.
Ia menjelaskan, pembatalan terpaksa dilakukan karena Bandara HMS merupakan bandar udara visual yang mensyaratkan jarak pandang di atas 5.000 meter. Sedangkan jarak pandang pada pagi hingga siang hari ini hanya tersisa 100 meter.
"Karena tidak aman untuk penerbangan, maka rute tersebut dalam sebulan ini dibatalkan," tegas Amrillah.

BPBD Barito Utara bergerak cepat menindaklanjuti laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Desa Trahean, Kecamatan Teweh Selatan. ANTARA/HO-BPBD Barito Utara
Menyikapi meluasnya dampak kabut asap, Bupati Barito Utara Shalahuddin menekankan pentingnya kecepatan dan kesiapsiagaan seluruh unsur dalam menangani karhutla. Laporan kemunculan titik panas (hotspot) harus segera direspons agar api tidak membesar.
“Begitu ada laporan titik panas atau kejadian kebakaran, seluruh tim harus cepat bergerak. Jangan sampai terjadi keterlambatan dalam penanganan,” kata Shalahuddin.
Shalahuddin juga mengingatkan kesiapan sarana prasarana penunjang di lapangan. "Saya minta seluruh peralatan pemadaman dipastikan dalam kondisi baik dan siap digunakan setiap saat," ujar dia.