Analis Turki Ungkap Melesetnya Prediksi Empat Hari Operasi Militer AS di Iran

Kerusakan akibat serangan rudal Iran ke Israel. Foto: The New York Times

Analis Turki Ungkap Melesetnya Prediksi Empat Hari Operasi Militer AS di Iran

Fajar Nugraha • 17 March 2026 17:07

Washington: Analis Turki yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Asli Aydintasbas, mengungkapkan bahwa Pemerintah AS telah memberikan informasi resmi kepada Turki terkait rencana operasi militer terhadap Iran.

Analisa tersebut menyebutkan, AS mengklaim bahwa operasi hanya akan memakan waktu selama empat hari.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hasil yang sangat berbeda. Konflik tersebut justru terus berlanjut dan memakan waktu jauh lebih lama daripada durasi singkat yang diperkirakan sebelumnya.

“Turki dan beberapa sekutunya diberi tahu, melalui saluran resmi, bahwa operasi ini hanya akan berlangsung beberapa hari dan selesai dalam empat hari,” ujar Aydintasbas, dikutip dari Middle East Eye, Selasa, 17 Maret 2026.

Ia menilai perubahan durasi operasi tersebut menimbulkan ketidakpercayaan di kalangan sekutu. 

“Anda tidak bisa memberi tahu sekutu NATO bahwa Anda memiliki rencana empat hari, lalu memperpanjang operasi menjadi 14 hari. Dalam arti tertentu, ini juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negara-negara di kawasan,” kata Aydintasbas.

Sejak Januari, Turki disebut telah berupaya mencegah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran dengan mengajukan berbagai proposal kepada Washington dan Teheran, termasuk menawarkan diri sebagai tuan rumah pembicaraan mediasi di Istanbul.

Namun, menurut pejabat Turki, Iran tidak menerima tawaran tersebut, termasuk usulan untuk menggelar konferensi tiga pihak antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan Presiden AS Donald Trump.


Perbedaan Tujuan AS dan Israel

Setelah beberapa putaran pembicaraan di Oman yang berfokus pada program nuklir Iran, AS dan Israel tetap melancarkan serangan terhadap Iran bulan lalu.

Aydintasbas menyebut bahwa tujuan Washington dan Tel Aviv tidak sepenuhnya sejalan. Ia mengatakan Israel pada dasarnya menginginkan perubahan rezim di Iran, atau setidaknya kondisi negara yang terfragmentasi.

Sementara itu, menurutnya, Trump lebih menginginkan kemenangan cepat dan kembali ke meja perundingan nuklir setelah memperoleh konsesi besar dari Iran.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump tidak berkonsultasi dengan para ahli Iran di Washington, dan lebih mengandalkan asumsi bahwa perubahan rezim dapat dicapai melalui operasi militer.

“Setiap pakar Iran yang saya temui mengatakan bahwa rezim tidak akan berubah melalui operasi militer, dan tidak akan berubah melalui serangan udara,” katanya.

Menurutnya, dorongan dari Israel, termasuk dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, turut memengaruhi keputusan Trump untuk melakukan serangan cepat, yang kini justru berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Aydintasbas menambahkan bahwa Washington awalnya meyakini bahwa jika pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei digulingkan atau tewas, maka rezim akan runtuh. Namun kenyataannya, situasi berkembang berbeda dari perkiraan tersebut.


Wacana Libatkan Kelompok Kurdi

Selain itu, sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat sempat mempertimbangkan penggunaan kelompok Kurdi di Iran dan sebagian Irak untuk melancarkan serangan di wilayah perbatasan.

Aydintasbas menilai gagasan tersebut sebagai indikasi kurang matangnya perencanaan Washington dalam menghadapi konflik yang berdampak luas secara global.

Ia menggambarkan pendekatan tersebut sebagai strategi yang dijalankan tanpa perencanaan matang. 

“Pendekatannya seperti ‘kita bangun pesawat sambil terbang’: mulai saja dulu, lalu lihat apa yang terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, rencana tersebut memicu penolakan luas, baik dari media maupun dari Turki secara diplomatik. Ia mengatakan Ankara menyampaikan keberatannya melalui berbagai jalur, termasuk kepada utusan AS.

Negara lain di kawasan, seperti Arab Saudi, juga disebut menyuarakan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya perang saudara di Iran.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan sebelumnya menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah adanya rencana penggunaan kelompok Kurdi di Iran.

Trump sendiri sempat menunjukkan dukungan terhadap gagasan tersebut, dengan meminta kelompok Kurdi untuk “memilih pihak” dalam konflik. Namun kemudian ia menarik kembali pernyataan itu.

“Saya tidak ingin kelompok Kurdi masuk ke Iran. Mereka bersedia melakukannya, tetapi saya sudah mengatakan bahwa saya tidak ingin mereka terlibat. Perang ini sudah cukup rumit tanpa melibatkan mereka,” kata Trump kepada wartawan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)