Mengenal Megathrust Selat Sunda yang Disebut Potensial Picu Gempa M8,9

Kerusakan bangunan di Bengkulu akibat gempa 4 Juni 2000, disebabkan megathrust Enggano. (Dok. Katalog Gempabumi Merusak di Indonesia Tahun 1612–2014 terbitan Kementerian ESDM)

Mengenal Megathrust Selat Sunda yang Disebut Potensial Picu Gempa M8,9

Riza Aslam Khaeron • 14 September 2026 17:25

Jakarta: Indonesia beberapa pekan ini dilanda bencana alam dan bencana nonalam, dari gempa bumi NTT, letusan gunung berapi termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
 
Di tengah rentetan bencana tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan adanya potensi gempa bumi megathrust di Selat Sunda yang dampaknya dapat dirasakan hingga Jakarta.

Berikut ini hal-hal yang perlu diketahui terkait megathrust Selat Sunda.

Apa Itu Megathrust Selat Sunda?

Wilayah Indonesia dipengaruhi oleh interaksi beberapa lempeng tektonik utama, seperti Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Laut Filipina, dan Pasifik.

Pertemuan dan pergerakan antarlempeng ini membentuk berbagai jenis sumber gempa. Salah satu yang paling signifikan adalah zona subduksi. Area di bagian dangkal zona subduksi tersebut, tepatnya pada kedalaman kurang dari 50 km dari permukaan laut, dikenal dengan nama megathrust.

Zona ini kerap memicu gempa besar sekaligus tsunami akibat pergerakan antara lempeng yang menunjam ke bawah dengan lempeng di atasnya.

Di perairan laut selatan Indonesia, membentang dari Pulau Sumbawa hingga Myanmar, terdapat Zona Subduksi Sunda sepanjang 5.000 km yang terbentuk akibat pertemuan lempeng samudra Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Sunda.


Peta segmen megathrust di Indonesia pada tahun 2017. (PuSGeN)

Zona Subduksi Sunda tersebut dibagi lagi menjadi beberapa segmen megathrust. Namun, pemetaan segmentasi megathrust di zona subduksi tersebut, seperti halnya megathrust di zona lainnya di Indonesia, kerap mengalami pemutakhiran berkala oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN).

Segmen megathrust Selat Sunda diperkenalkan pada pemutakhiran pemetaan 2017, berlokasi di Samudra Hindia di selatan/barat daya Banten dan tenggara Sumatra dengan potensi magnitudo maksimum (Mmax) berkisar 8,7–8,8.


Peta segmentasi megathrust di Indonesia pada tahun 2024. (PuSGeN)

Namun, segmen megathrust khusus Selat Sunda tersebut tidak dicantumkan lagi pada pemutakhiran peta PuSGeN pada 2024, yang menggabungkan Segmen Enggano dengan sebagian dari segmen bagian Selat Sunda.

Kini segmen megathrust Selat Sunda merujuk pada segmen megathrust Enggano yang memiliki Mmax berkisar 8,9 dengan panjang sumber sekitar 420 km di perairan laut selatan wilayah Bengkulu dan sekitar Pulau Enggano.

Sejarah Gempa Megathrust Enggano

Catatan PuSGeN merekam satu-satunya gempa besar yang didokumentasikan yang pernah terjadi di sekitar Segmen Enggano adalah Gempa Enggano berkekuatan Mw 7,0 pada 4 Juni 2000.

BMKG mencatat pusat gempa berada di kawasan Palung Sunda dekat Pulau Enggano. Dampaknya cukup parah di Bengkulu dan sekitarnya. Sedikitnya 354 rumah hancur dan 669 rumah mengalami kerusakan, sementara fasilitas rumah sakit, jalan, serta jaringan listrik turut terdampak. Catatan korban berbeda antar-sumber, tetapi BMKG menyebut sekitar 103–141 orang meninggal dunia dan 2.585 orang terluka.

Kendati demikian, tidak ada gelombang tsunami yang tercatat terjadi pada gempa tersebut.

Potensi Tsunami

Berdasarkan keterangan BMKG, potensi gempa megathrust Selat Sunda berpotensi menciptakan tsunami dengan ketinggian gelombang yang dapat melebihi 1,5 meter di wilayah pesisir Banten dan Jawa Barat, serta 0,5 meter di pesisir Jakarta Utara.

Lebih spesifik pada pemodelan pada 2022 sebelum pemutakhiran segmentasi 2024, potensi gempa 8,7 di Selat Sunda dapat menyebabkan potensi tsunami yang menerjang dengan jarak maksimum sekitar kurang lebih 1,5 km dari tepi pantai di Kelurahan Tegalratu, Kecamatan Ciwandan, dan Kelurahan Warnasari, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon.

(Riza Aslam Khaeron)