Gedung Superbank. Foto: dok Superbank.
Pasca-IPO, Superbank Pikat Investor
Husen Miftahudin • 22 December 2025 11:24
Jakarta: PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025 dengan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp635 per saham. Sejak debut perdananya, saham SUPA menunjukkan performa impresif dengan langsung menguat pada hari pertama perdagangan dan terus melanjutkan tren kenaikan, sekaligus menandai kepercayaan investor atas masuknya Superbank ke dalam kategori Bank Umum Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Desember 2025, saham SUPA tercatat ditutup di kisaran Rp1.230 per saham, mencerminkan apresiasi signifikan dari pelaku pasar terhadap prospek bank digital tersebut pasca pencatatan saham perdana. Kinerja positif ini menunjukkan tingginya minat investor terhadap model bisnis digital Superbank serta ekspektasi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.
Hingga November 2025, Superbank membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp122,4 miliar, didukung lonjakan pendapatan bunga bersih sebesar 165 persen (yoy) menjadi Rp1,4 triliun. Kinerja intermediasi yang kuat tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 149 persen (yoy) menjadi Rp11,0 triliun dan penyaluran kredit yang meningkat 58 persen (yoy) mencapai Rp9,3 triliun, sehingga mendorong total aset tumbuh 69 persen (yoy) menjadi Rp18,0 triliun.
Dari sisi operasional, Superbank telah melayani lebih dari lima juta nasabah dengan rata-rata transaksi harian melampaui satu juta transaksi per hari. CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menilai capaian kinerja Superbank hingga November 2025 mencerminkan fundamental yang semakin solid pasca-IPO.
"Kombinasi pertumbuhan laba, ekspansi kredit yang terukur, serta peningkatan transaksi harian menunjukkan bahwa Superbank tidak hanya bertumbuh secara agresif, tetapi juga semakin matang dari sisi fundamental," ungkap Bernadus dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 22 Desember 2025.

(Ilustrasi. Foto: Bareksa.com via Bisnismuda.id)
Pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Desember 2025, saham SUPA tercatat ditutup di kisaran Rp1.230 per saham, mencerminkan apresiasi signifikan dari pelaku pasar terhadap prospek bank digital tersebut pasca pencatatan saham perdana. Kinerja positif ini menunjukkan tingginya minat investor terhadap model bisnis digital Superbank serta ekspektasi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.
Hingga November 2025, Superbank membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp122,4 miliar, didukung lonjakan pendapatan bunga bersih sebesar 165 persen (yoy) menjadi Rp1,4 triliun. Kinerja intermediasi yang kuat tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 149 persen (yoy) menjadi Rp11,0 triliun dan penyaluran kredit yang meningkat 58 persen (yoy) mencapai Rp9,3 triliun, sehingga mendorong total aset tumbuh 69 persen (yoy) menjadi Rp18,0 triliun.
Dari sisi operasional, Superbank telah melayani lebih dari lima juta nasabah dengan rata-rata transaksi harian melampaui satu juta transaksi per hari. CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menilai capaian kinerja Superbank hingga November 2025 mencerminkan fundamental yang semakin solid pasca-IPO.
"Kombinasi pertumbuhan laba, ekspansi kredit yang terukur, serta peningkatan transaksi harian menunjukkan bahwa Superbank tidak hanya bertumbuh secara agresif, tetapi juga semakin matang dari sisi fundamental," ungkap Bernadus dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 22 Desember 2025.
| Baca juga: Baru IPO, Saham Superbank Langsung ARA |
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Bareksa.com via Bisnismuda.id)
Punya ruang ekspansi menarik
Menurut Bernadus, keberhasilan Superbank memenuhi kriteria KBMI 2 dengan modal inti di atas Rp6 triliun memperkuat persepsi pasar terhadap keberlanjutan pertumbuhan jangka menengah. "Dengan struktur permodalan yang lebih kuat dan basis nasabah yang terus berkembang, Superbank memiliki ruang ekspansi yang menarik, yang pada akhirnya dapat menjadi katalis positif bagi valuasi saham ke depan," tambah dia.
Ke depan, Sucor Sekuritas optimistis Superbank memiliki prospek jangka panjang yang menarik, seiring meningkatnya penetrasi layanan perbankan digital serta kebutuhan pembiayaan di segmen ritel dan UMKM. Status KBMI 2 diyakini akan memperkuat daya saing Superbank di industri perbankan nasional dan mendukung fase pertumbuhan berikutnya sebagai perusahaan publik.
Selain itu, sebagai bagian dari Grab dan Emtek Group yang secara total memiliki lebih dari 50 juta pengguna, Bernadus Wijaya juga optimis Superbank akan berhasil memanfaatkan ekosistem ini untuk menjadi Bank Digital terbesar di Indonesia.
"Saya yakin dengan track record yang sangat baik hingga November 2025 ini, Superbank akan mampu memanfaatkan ekosistem yang dimiliki oleh Grab dan Emtek yang memiliki total lebih dari 50 juta pengguna, sehingga Superbank akan mampu menjadi Bank Digital terbesar di Indonesia dalam dua-tiga tahun yang akan datang," tutup Bernadus.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com