Kepala BNPB Letjen Suharyanto (tengah) saat konferensi pers daring gempa Malut dan Sulut M 7,6. (tangkapan layar/YouTube BNPB)
BNPB Desak Status Darurat di Sulut-Malut Usai Gempa Picu Tsunami
Lukman Diah Sari • 2 April 2026 15:32
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta kepada pemerintah kabupaten dan kota yang terdampak bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut) untuk segera menetapkan status tanggap bencana. Permintaan ini disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers daring, Kamis, 2 April 2026.
"Mohon untuk kabupaten kota yang terdampak segera menetapkan status tanggap darurat," tegas Suharyanto.
Kepala BNPB menjelaskan bahwa bila ada dua kabupaten/kota yang telah menetapkan status tanggap darurat bencana, maka pemerintah provinsi, Sulut maupun Malut, pun bisa menetapkan status tanggap darurat bencana. Dia mengingatkan bahwa penetapan status tersebut tidak berkaitan dengan kemampuan pemimpin daerah dalam meanganangi bencana.
"Kita sepakat bahwa bencana adalah kejadian luar biasa, siapapun pejabat, sehebat apapun pemimpin, tidak bisa mengatasai sendirian, jadi dengan menetapkan status tanggap darurat, pemerintah pusat bisa membantu secara maksimal," jelas dia.
Gempa M7,6 yang terjadi di barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, dan Bitung, Sulut, akibat aktivitas deformasi kerak bumi. Hal itu berdasarkan pengamatan titik dan kedalaman gempa.
Hasil pemodelan BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut berpotensi tsunami dengan status siaga di Kota Ternate, Halmahera, Kota Tidore, Kota Bitung, Minahasa bagian selatan, Minahasa Selatan bagian selatan, Minahasa Utara bagian selatan.
Sementara itu, status waspada berlaku untuk Kepulauan Sangihe, Minahasa Utara bagian utara, Bolaang Mongondow bagian selatan.

Kondisi plafon gipsum Gereja Paroki Bunda Hati Kudus Yesus Rumengkor, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara runtuh akibat gempa, Kamis pagi, 2 April 2026. ANTARA/Dokumentasi Pribadi
Berdasarkan hasil pemantauan tinggi muka air laut, tsunami telah terdeteksi di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB dengan ketinggian 0,30 meter, Bitung pada pukul 06.15 WIB dengan ketinggian 0,20 meter, Sidangoli pada pukul 06.16 WIB dengan ketinggian 0,35 meter.
Di Minahasa Utara pada pukul 06.18 WIB dengan ketinggian 0,75 meter, dan di Belang pada pukul 06.36 WIB dengan ketinggian 0,68 meter.
BMKG mencatat gempa ini dirasakan di Kota di Ternate dengan intensitas V-VI MMI. Getaran jenis ini dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.
Kemudian Ibu dengan intensitas V MMI. Getaran jenis ini dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun. Sedangkan di Manado, dengan intensitas IV-V MMI; Gorontalo Bone Bolango, Gorontalo Utara dengan intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu), Kab. Boalemo dan Pohuwato dengan intensitas II-III MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).