Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet
Podium MI: Syamsiyah
Abdul Kohar • 5 May 2026 08:16
DALAM dunia yang kian bising oleh kemarahan, ada satu sikap yang justru terasa langka, yakni memaafkan. Apalagi, ketika luka itu datang dari mereka yang seharusnya menghormati. Namun, di ruang kelas yang sederhana, di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat, seorang guru menunjukkan pendidikan sejati tidak berhenti pada buku pelajaran. Ia hidup dalam laku.
Namanya Syamsiyah. Guru PKN yang telah mengabdi sejak 2003 itu mendadak menjadi sorotan setelah sebuah video 31 detik beredar luas. Dalam rekaman itu, sejumlah siswa tampak mengejek dengan cara mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah. Gestur itu tak hanya melukai pribadi, tetapi juga mencederai martabat pendidikan.
Reaksi publik pun berderak cepat. Dari tenaga pendidik, alumnus, hingga pejabat daerah seperti Gubernur Dedi Mulyadi, semua menyuarakan keprihatinan. Sekolah bergerak memberikan sanksi. Sembilan siswa dijatuhi hukuman sesuai dengan pedoman pendidikan karakter. Bahkan, ada usul agar pembinaan diperkuat lewat kerja-kerja fisik membersihkan lingkungan sekolah, merawat fasilitas, menata ulang disiplin yang sempat longgar
Namun, di tengah riuh itu, Syamsiyah memilih jalan yang sunyi, jalan yang tidak populer, tetapi justru paling mendidik. Ia memaafkan.
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan mereka,” ujarnya. Kalimat yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya berat. Memaafkan bukan berarti melupakan luka, melainkan memilih untuk tidak membiarkannya menjadi dendam. Ia bahkan menyebut para siswa itu menangis, menyadari kesalahan mereka. Pada titik itu, proses pendidikan sedang berlangsung, bukan di papan tulis, melainkan di kedalaman hati.
Ia juga menegaskan tidak akan membawa perkara itu ke jalur hukum. “Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi,” tuturnya. Sebuah pernyataan yang mengingatkan kita bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga pembentuk manusia.
Kronologi kejadian justru menambah ironi. Saat itu, para siswa datang, bersalaman, bahkan meminta foto bersama. Ia menghargai mereka meski sedang terburu menuju kelas lain. Ia tidak tahu, di balik itu ada kamera yang merekam. Ada ruang kepercayaan yang diam-diam dikhianati.
Sedih? Tentu. Ia mengakuinya. Namun, ia tidak berhenti di sana. “Keimanan saya jadikan obat,” katanya. Sebuah cara pandang yang menempatkan pendidikan sebagai proses panjang, bukan vonis instan. “Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal.” Kalimat itu bukan pembelaan, melainkan harapan.
Baca Juga:
Dukung Efisiensi Energi, Guru di Bojonegoro Lari Sejauh 4 Km ke Sekolah |
Di sinilah letak kemuliaan seorang guru. Ia tidak melihat murid sebagai kesalahan hari ini, tetapi sebagai kemungkinan masa depan. Semakin mereka tersesat, semakin kuat dorongan untuk membimbing. Semakin mereka keliru, semakin luas ruang maaf dibuka.
Kita boleh saja marah melihat perilaku siswa yang melampaui batas. Kita berhak menuntut disiplin dan sanksi. Namun, pendidikan tidak pernah selesai hanya dengan hukuman. Ia membutuhkan teladan. Dalam kasus ini, teladan itu justru datang dari pihak yang disakiti.
Apa yang dilakukan Syamsiyah seakan menghidupkan kembali makna lama yang sering kita lupakan bahwa guru ialah orangtua kedua. Hatinya lapang, seluas samudra. Dihina, dirundung, bahkan dibentak, tetap menyisakan ruang maaf. Tak ada kamus dendam. Yang ada justru doa agar anak didiknya kelak menjadi manusia yang lebih baik.
Di tengah gempuran teknologi, kurikulum yang kerap berganti, dan segala jargon pendidikan modern, kita sering lupa bahwa inti pendidikan tetap sama, yaitu membentuk karakter. Karakter tidak diajarkan lewat teori, tetapi ditunjukkan lewat sikap.
Apa yang dilakukan Bu Syamsiyah mungkin tidak viral seperti videonya. Tidak sensasional, tidak memancing amarah. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Ia mengajarkan pendidikan bukan tentang membalas, melainkan membimbing. Bukan tentang menghukum semata, melainkan juga memulihkan.
Barangkali, di situlah kita menemukan kembali makna pendidikan yang paling mendasar: memanusiakan manusia. Selamat Hari Pendidikan Nasional.