Prediksi Harga Emas Dunia Hari Ini: Waspadai Tekanan Bearish!

Ilustrasi. Foto: dok ICDX.

Prediksi Harga Emas Dunia Hari Ini: Waspadai Tekanan Bearish!

Ade Hapsari Lestarini • 18 May 2026 11:11

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai pergerakan XAU/USD pada timeframe harian masih menunjukkan sinyal bearish yang kuat, setelah gagal bertahan di area support penting.

Secara teknikal, harga emas sebelumnya menembus level support di area USD4.580. Breakout tersebut menjadi sinyal tekanan jual masih mendominasi pasar dan membuka peluang penurunan lebih lanjut dalam jangka menengah.

Setelah menembus area tersebut, harga emas dunia sempat mengalami rebound terbatas. Namun, penguatan yang terjadi dinilai belum cukup kuat untuk mengubah tren utama yang masih cenderung melemah.

Menurut Geraldo, pasar kini menunggu konfirmasi lanjutan melalui pembentukan candlestick bearish, terutama pola Bearish Marubozu. Pola tersebut umumnya mencerminkan dominasi tekanan jual dan mengindikasikan potensi pelemahan lanjutan.

"Dengan kondisi tersebut, harga emas diperkirakan berpeluang turun menuju support terdekat di level USD4.418. Jika tekanan bearish terus berlanjut dan sentimen pasar masih negatif terhadap emas, maka target penurunan berikutnya berada di area USD4.304," ujar dia dalam analisisnya, Senin, 18 Mei 2026.

Selain pola candlestick, indikator stochastic juga masih bergerak turun dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang signifikan. Sementara itu, posisi harga yang masih berada di bawah moving average memperlihatkan tren bearish masih cukup dominan pada timeframe harian.

"Kondisi ini menandakan momentum pelemahan masih sejalan dengan struktur pasar saat ini. Selama harga belum mampu kembali naik di atas area resistance penting, peluang koreksi lebih dalam masih cukup terbuka," kata dia.


Ilustrasi emas batangan. Foto: dok Magnific.
 

 

Tekanan dolar AS


Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas turut dipengaruhi penguatan dolar AS. Saat dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan terhadap logam mulia cenderung menurun.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor yang menekan pergerakan emas. Investor dinilai lebih tertarik pada instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan yield.

Pasar juga masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama seiring data ekonomi AS, terutama sektor tenaga kerja dan inflasi, yang masih cukup solid.

"Selama The Fed belum memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter, dolar AS diperkirakan tetap kuat dan terus menjadi tekanan bagi harga emas. Harapan pasar terhadap suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama membuat investor lebih berhati-hati untuk kembali masuk ke aset safe haven seperti emas," ujar dia.

Di sisi lain, membaiknya sentimen pasar global juga mengurangi permintaan terhadap emas. Ketika pasar saham dan kondisi ekonomi global lebih stabil, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berisiko yang dinilai memiliki potensi imbal hasil lebih tinggi.

Tekanan jual emas turut diperkuat aksi profit taking setelah harga gagal bertahan di area support USD4.580. Breakdown pada level tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar, tren bearish masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

"Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental masih menunjukkan harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini. Selama tekanan jual masih dominan dan harga belum mampu kembali ke atas area resistance utama, peluang penurunan menuju level USD4.418 hingga USD4.304 masih terbuka lebar," jelas dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)