Anggota BPBD Kalbar tengah memadamkan lahan terbakar di Pontianak. Foto: Metrotvnews.com/Muhamad Marup.
Kisah Pasukan Oranye Kalbar Siaga Padamkan Lahan Terbakar
Muhamad Marup • 6 September 2026 22:20
Pontianak: Pagi hari saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pontianak, Kalimantan Barat, asap sedang pekat-pekatnya. Napas terancam dan pandangan terbatas, tapi para 'pasukan oranye' sudah siap bertugas.
Tak peduli hari libur, mereka akan tetap bertempur. Mereka sisir titik-titik api di Pontianak dan sekitar agar tidak mengancam keselamatan warga.
Mereka adalah para anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat (Kalbar). Sekitar 50 anggota mereka hari itu akan berbagi tugas untuk memadamkan lahan-lahan terbakar.
"Sekitar 50 orang itu biasanya jadi dua sampai empat tim pemadam dan ada satu yang jaga di posko," ujar Ahli Madya Kebencanaan BPBD Kalbar, Erfandi, saat memadamkan lahan terbakar di Pontianak, Minggu, 6 September 2026.

Ahli Madya Kebencanaan BPBD Kalbar, Erfandi. Foto: Metrotvnews.com/Muhamad Marup.
Siaga Awasi Lahan Terbakar
Minggu, 6 September 2026, para petugas sudah berkumpul sejak pagi hari. Di tengah suara yang tertahan masker, mereka merapatkan kegiatan pemadanan dan penanggulangan karhutla lainnya.Dua wilayah yang akan mereka datangi yaitu Desa Sungai Malaya dan Desa Sungai Raya Dalam. Setelah kesiapan tim dicek, rapat ditutup dengan jargon, "BPBD Tangguh!".
Jargon tersebut bukan pemanis belaka. Di tengah perjalanan, tim Desa Sungai Raya Dalam mendapat laporan warga bahwa terjadi kebakaran lahan yang dekat dengan mereka.
Ketika sudah memastikan bahwa kebakaran di Sungai Raya Dalam masih dalam tahap terkendali, mereka segera menindaklanjuti laporan warga tersebut.
"Prinsipnya, jika kebakaran mengancam warga sekitar, kami akan prioritaskan," tuturnya.
Baca Juga :
Dua Sisi Tugu Digulis di Tengah Selimut Karhutla
Jarak rumah dari titik api hanya belasan langkah saja. Sekilas memang hanya tampak gumpalan asap pekat tanpa api, tapi mengingat lokasi merupakan lahan gambut, api bisa membakar kapan saja.
"Kalau di lihat dari permukaan memang apinya kecil-kecil, tapi di bawahnya itu api menyala dan akan terus merambat kalau tidak dipadamkan," terangnya.
Saat proses pemadaman, air juga sering disemprotkan langsung ke tanah agar bisa menjangkau api di bawah lahan gambut. Hampir tiga jam mereka berkutat di tengah asap pekat untuk memastikan tak ada sisa api setitik pun.
Erfandi menuturkan, ia dan tim sudah bersiaga menangani karhutla sejak Februari lalu. Semakin dekat musim kemarau, intensitas pemadaman semakin bertambah dan puncaknya terjadi pada pertengahan Juli.
"Sejak Juli itu dari biasanya hanya seminggu atau dua minggu sekali jadi hampir setiap hari," jelasnya.
Erfandi menuturkan, timnya harus siap siaga dengan agenda tak terduga termasuk dalam kondisi bencana. Tentu ada harga yang mesti dibayar, salah satunya waktu berkumpul dengan keluarga.
"Sering ketika kami pulang, istri dan anak sudah tidur. Lalu subuh kami berangkat lagi," tambahnya.

Anggota BPBD Kalbar memadamkan lahan terbakar di Pontianak. Foto: Metrotvnews.com/Muhamad Marup
Dukungan Semua Pihak
Di tengah marak karhutla akhir-akhir ini, Erfandi mengatakan pihaknya merasa terbantu dengan keterlibatan semua pihak. Meski tidak langsung terjun memadamkan api, dukungan berupa doa dan donasi terus mengalir dari semua pihak.Ia menuturkan kebutuhan bagi masyarakat terdampak seperti makanan, vitamin, dan masker selalu terpenuhi. Saat proses pemadaman juga jadi ajang penyaluran donasi tersebut.
"Alhamdulillah bantuan terus mengalir ke posko di kantor kami, termasuk masker dari pemerintah pusat dan BUMN," ucapnya.
Selain bagi masyarakat terdampak, dukungan alat-alat dan tambahan personel dari pemerintah pusat juga membantu proses pemadaman. Hasilnya, semakin hari hotspot atau titik api di Kalimantan Barat terus menurun.
"Kita berharap dukungan serta doa dari semua pihak agar dampak karhutla ini segera berakhir," tutupnya.