SKK Migas Proyeksikan Rata-rata ICP Tahun Depan Naik Jadi USD80/Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

SKK Migas Proyeksikan Rata-rata ICP Tahun Depan Naik Jadi USD80/Barel

Husen Miftahudin • 4 June 2026 11:45

Jakarta: Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto memproyeksikan rata-rata harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada 2027 berada di level USD80 per barel.

"Untuk 2027, perkiraan kami ICP sebesar USD80 per barel," ujar Djoko Siswanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 4 Juni 2026.

Angka tersebut lebih tinggi USD10 per barel apabila dibandingkan dengan ICP yang termaktub dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni sebesar USD70 per barel.

Akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, rata-rata ICP dari Januari 2026 hingga Mei 2026 menyentuh USD86 per barel. Meskipun demikian, Djoko menyampaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir 2026, sebab rata-rata ICP belum mencapai USD100 per barel.

"Untuk ICP, realisasi 2026 sampai dengan Mei USD86 per barel. Nah, ini yang menyebabkan harga Pertalite dan solar subsidi tetap tidak naik sampai akhir tahun, karena targetnya, dananya cukup apabila ICP tidak mencapai USD100," kata Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto.
 

Baca juga: SKK Migas: Produksi Sumur Rakyat Capai Rata-rata 400 Barel/Hari


(RDP SKK Migas dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Foto: Antara)
 

Rata-rata ICP per April 2026 naik USD15,05


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sebesar USD117,31 per barel. Harga tersebut melonjak USD15,05 dibandingkan Maret 2026 yang tercatat USD102,26 per barel.

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman, berbagai perkembangan sepanjang April 2026 turut memberikan tekanan terhadap pasar minyak dunia, mulai dari gejolak Selat Hormuz, blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, hingga serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Selain faktor geopolitik, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan I-2026 yang mencapai 5,0 persen secara tahunan turut memberikan sentimen positif terhadap permintaan minyak dunia.

(Husen Miftahudin)