Erdogan Desak Komunitas Global Lebih Menekan Israel demi Rekonstruksi Gaza

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, AS, 22 September 2026. (Anadolu Agency)

Erdogan Desak Komunitas Global Lebih Menekan Israel demi Rekonstruksi Gaza

Willy Haryono • 23 September 2026 08:55

New York: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak segera dimulainya rekonstruksi Gaza dan meminta komunitas global untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel demi mewujudkan hal tersebut.

Berbicara dalam Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, Selasa, 22 September 2026, Erdogan mengatakan upaya pembangunan kembali Gaza harus dimulai sesegera mungkin.

“Kita perlu memulai rekonstruksi Gaza tanpa membuang waktu. Dalam hal ini, saya menyerukan kepada Anda untuk memberikan tekanan yang lebih besar kepada Israel,” kata Erdogan, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Erdogan mengatakan Turki tetap berkomitmen terhadap kesepakatan yang ditandatangani di Sharm el-Sheikh setahun sebelumnya dan akan terus memantau pelaksanaannya.

Ia mengatakan upaya untuk mencegah pembentukan negara Palestina pada akhirnya akan gagal.

“Semua orang sekarang harus memahami dan menerima ini: Upaya untuk mencekik negara Palestina akan berakhir dengan kegagalan,” ujarnya.

Erdogan berharap negara Palestina yang merdeka dan memiliki integritas wilayah berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, pada akhirnya dapat terbentuk.

“Kita, insyaallah, akan melihat hari-hari indah ketika Negara Palestina yang merdeka dan memiliki integritas wilayah, dalam perbatasan 1967 dan dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, akan terwujud,” kata Erdogan.

Soroti Ketidakhadiran Mahmoud Abbas

Mengawali pidatonya, Erdogan menyampaikan kesedihannya karena Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak dapat menghadiri Sidang Umum PBB selama dua tahun berturut-turut.

“Presiden Palestina, Bapak Abbas, tidak dapat berada di ruangan ini selama dua tahun berturut-turut. Ketidakadilan terhadap saudara-saudari Palestina kami ini melukai hati nurani,” katanya.

Erdogan mengatakan Turki akan terus menyuarakan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat meskipun Abbas tidak hadir.

“Meski Bapak Abbas tidak dapat hadir secara langsung, seperti yang kami lakukan tahun lalu, kami akan menjadi suara bagi negara Palestina yang bebas dan berdaulat,” ujarnya.

Erdogan juga menyerukan kepada negara-negara yang belum mengakui Palestina untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka.

“Hari ini, sekali lagi, saya menyerukan kepada semua negara yang belum mengakui negara Palestina untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka,” katanya.

Erdogan Soroti Situasi Kemanusiaan di Gaza

Mengenai situasi di Jalur Gaza, Erdogan mengatakan wilayah tersebut telah menjadi “pemakaman terbesar bagi anak-anak di dunia” serta kawasan dengan tingkat amputasi anak tertinggi di dunia.

Erdogan mengatakan 74.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah tewas di Gaza dalam tiga tahun terakhir. Dia menyebut mereka sebagai korban “teror negara Israel."

Menurut Erdogan, warga Palestina masih mencari orang-orang yang mereka cintai di bawah reruntuhan dan menemukan jasad pasangan, anak, maupun orang tua mereka. Ia juga mengatakan anak-anak yang kehilangan anggota tubuh akibat serangan Israel berusaha kembali ke sekolah dan melanjutkan kehidupan dengan prostesis kayu.

Erdogan mengatakan lebih dari 70 persen generator di rumah sakit Gaza saat ini tidak berfungsi akibat kekurangan bahan bakar.

“Gaza adalah kamp konsentrasi paling tidak manusiawi dan memalukan pada zaman kita,” ujarnya.

Erdogan mengatakan lebih dari 1.500 warga Palestina tewas bahkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025 tercapai melalui upaya Presiden AS Donald Trump dan kontribusi Turki serta negara-negara lainnya.

Dia mengatakan meskipun gerakan perlawanan Palestina telah menyetujui untuk melanjutkan ke tahap kedua rencana perdamaian, pemerintah Israel tidak bersedia mengakhiri pendudukan.

Mengenai Tepi Barat yang diduduki, Erdogan mengatakan wilayah tersebut mengalami periode terburuk kekerasan oleh pemukim. Dia juga menyoroti pembatasan terhadap umat Islam dan Kristen untuk mengakses tempat-tempat suci di Yerusalem.

Erdogan turut mengatakan badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, menjadi sasaran.

“Kita menghadapi pola pikir genosida yang tidak pernah puas dengan pembunuhan,” kata Erdogan. Ia menambahkan bahwa tidak seorang pun yang memiliki kemanusiaan, belas kasih, kasih sayang, dan hati nurani dapat menutup mata terhadap situasi tersebut.

Dia menegaskan persoalan tersebut bukan masalah pribadi baginya, melainkan “masalah kemanusiaan” dan “masalah hati nurani bagi kita semua."

Baca juga: Indonesia dan 7 Negara Desak Israel Penuhi Komitmen Tahap Pertama Perdamaian Gaza

(Willy Haryono)