Ilustrasi, sistem pipa gas LNG di Eropa. Foto: dok Xinhua.
Harga Gas Eropa Mulai Pulih di Tengah Ketegangan AS dan Iran
Husen Miftahudin • 25 September 2026 10:15
London: Harga gas alam grosir berjangka Eropa dan Inggris kembali menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat. Keduanya naik 1,6 persen di tengah memudarnya harapan terhadap penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat atas konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Perkembangan tersebut kembali meningkatkan premi risiko di pasar energi global, termasuk terhadap pasokan gas alam cair (LNG) menuju Eropa.
Mengutip Investing.com, Jumat, 25 September 2026, kontrak acuan gas TTF Belanda untuk pengiriman terdekat naik menjadi EUR74,50 per megawatt-jam (MWh). Harga tersebut pulih setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam hampir tiga pekan.
Di Inggris, kontrak gas grosir NBP untuk pengiriman terdekat turut menguat menjadi 185,85 pence per therm. Kenaikan terjadi seiring pelaku pasar memperhitungkan risiko terhadap jalur transit LNG.
Ketegangan AS-Iran tekan sentimen pasar
Optimisme pasar sebelumnya meningkat seiring munculnya peluang pembicaraan antara AS dan Iran. Namun, sentimen tersebut kembali mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan keras terhadap Iran dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Trump menyebut Iran sebagai pengganggu regional dan membuka kemungkinan tindakan lebih keras jika konflik meningkat. Pemerintah dan pimpinan militer Iran menolak ancaman tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mempertahankan sikap tegas terhadap AS, sementara Garda Revolusi Iran memperingatkan kemungkinan serangan balasan jika tekanan terhadap Teheran berlanjut.
Ketegangan diplomatik tersebut mengurangi harapan terhadap tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pengiriman LNG dari Qatar dan kawasan Teluk Persia menuju terminal impor Eropa.

(Ilustrasi, bendera Uni Eropa. Foto: Anadolu Agency)
Stok gas Eropa masih di bawah tahun lalu
Selain faktor geopolitik, kondisi persediaan gas juga menjadi perhatian pasar menjelang musim pemanasan. Data Gas Infrastructure Europe (GIE) menunjukkan tingkat penyimpanan gas bawah tanah di Uni Eropa berada di sekitar 70 persen dari kapasitas.
Meskipun proses pengisian persediaan masih berlangsung, tingkat penyimpanan tersebut sekitar 12 poin persentase lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Defisit penyimpanan tersebut menjadi perhatian menjelang musim pemanasan. Kondisi tersebut juga sejalan dengan peringatan Bank Sentral Eropa mengenai volatilitas harga energi grosir yang dapat menimbulkan risiko berkelanjutan terhadap inflasi konsumen.
Perkembangan harga energi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dicermati bank sentral dalam menentukan kebijakan menjelang musim pemanasan.