Karhutla Dekati Sekolah Orangutan di Berau, Pemadaman Terkendala Air

Ilustrasi-Salah satu oranutan yang dilepasliarkan BKSDA Kalimantan Timur. Foto: Dok. Kementerian Kehutanan.

Karhutla Dekati Sekolah Orangutan di Berau, Pemadaman Terkendala Air

Media Indonesia • 29 August 2026 14:57

Berau: Kebakaran kembali menghanguskan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Api dengan cepat menjalar semak belukar kering yang memenuhi kawasan hutan.

Tiupan angin kencang memaksa petugas bekerja lebih cepat. Api terus bergerak mengikuti arah vegetasi kering, sehingga pemadaman dilakukan secara berpindah guna mencegah kobaran meluas ke area hutan lainnya.

Di lapangan, petugas gabungan dihadapkan pada kendala keterbatasan pasokan air. Lokasi sumber air yang cukup jauh dari titik kebakaran menjadi tantangan berat dalam operasi pemadaman.

Anggota Manggala Agni, Eko, mengatakan petugas saat ini hanya didukung dua unit tangki air berkapasitas sekitar 1.200 liter. Kondisi tersebut menuntut penggunaan air harus diperhitungkan secara saksama.

"Kendala kami di lapangan itu sumber air cukup jauh. Tangki yang tersedia juga hanya dua unit dengan kapasitas sekitar 1.200 liter. Jadi ketika air habis, kami harus kembali lagi untuk mengambil air sebelum melanjutkan pemadaman," kata Eko.


Proses pemadaman karhutla di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan. (Foto: COP/Istimewa)

Menurutnya, petugas menggunakan mesin bertekanan tinggi agar semprotan air dapat menjangkau titik api dengan lebih efektif. Namun, hal ini berkonsekuensi pada persediaan air yang lebih cepat habis.

"Kami menggunakan mesin bertekanan tinggi supaya pemadaman lebih maksimal. Tetapi air juga lebih cepat terkuras, sehingga kami harus terus melakukan pengisian ulang dan kembali ke lokasi api," ujarnya.

Api Mulai Mendekati Sekolah Orangutan

Kebakaran kali ini menjadi perhatian serius lantaran titik api disebut mendekati kawasan sekolah hutan yang dikelola Centre for Orangutan Protection (COP). Kawasan tersebut merupakan area penting dalam upaya rehabilitasi dan perlindungan satwa dilindungi tersebut.

Direktur COP, Daniek Hendarto, mengingatkan bahwa kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi, tetapi juga mengancam kehidupan satwa liar yang bergantung pada kawasan tersebut.

"Kami berharap tidak ada lagi masyarakat yang melakukan pembakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan KHDTK. Dampaknya bukan hanya terhadap hutan dan orangutan, tetapi asap dari kebakaran juga membahayakan kesehatan manusia," tegas Daniek. Ia menilai perlindungan kawasan hutan harus menjadi tanggung jawab bersama. Terlebih, KHDTK Labanan memiliki fungsi ekologis yang sangat penting karena berdekatan dengan area konservasi serta sekolah hutan orangutan.

Hingga kini, petugas gabungan masih terus melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik rawan. Pengendalian terus diupayakan untuk memastikan api tidak kembali membesar dan merembet ke kawasan sekolah hutan. (MI/Yovanda Izabella)

(Lukman Diah Sari)