Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi. (Mehr News Agency)
Iran Tegaskan Hanya Kekuatan yang Bisa Hadapi Ancaman Trump
Muhammad Reyhansyah • 20 May 2026 11:30
Teheran: Seorang anggota senior parlemen Iran menolak ancaman militer terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap negaranya dan menyebut satu-satunya cara menghadapi Trump adalah melalui kekuatan.
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi mengatakan laporan terbaru yang menyebut Trump sempat merencanakan agresi baru terhadap Iran lalu membatalkannya menunjukkan bahwa presiden AS itu takut terhadap respons tegas Teheran.
"Keraguan Trump berakar pada satu kenyataan: dia tahu setiap langkah melawan Iran berarti menghadapi respons militer yang tegas dan bangsa yang bersatu. Kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dia pahami," tulis Azizi di akun X miliknya, dikutip dari PressTV, Rabu, 20 Mei 2026.
Azizi juga membantah laporan yang menyebut Trump mengubah keputusannya terkait serangan baru terhadap Iran setelah mendapat tekanan dari para pemimpin negara Arab di Teluk Persia.
Menurutnya, satu-satunya alasan yang mungkin membuat Trump mengurungkan serangan adalah ketakutan terhadap respons besar dari Iran.
"Jelas dia tidak peduli terhadap mediasi para pemimpin negara Teluk Persia," kata Azizi.
Iran Tegaskan Siap Hadapi Agresi Baru
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Trump mengatakan di media sosial bahwa dirinya menghentikan rencana agresi militer baru terhadap Iran setelah negara-negara kawasan, termasuk Qatar, meyakinkannya bahwa diplomasi dengan Teheran masih berlangsung dan dapat membuahkan hasil.Iran sebelumnya telah menolak keras penggunaan ancaman oleh Trump untuk mencapai kesepakatan yang bertujuan mengakhiri agresi AS-Israel terhadap negara tersebut secara permanen.
Teheran menyatakan bersedia menyepakati perjanjian yang menjamin penghentian permanen agresi serta pencabutan seluruh sanksi dan blokade terhadap Iran.
Namun para pejabat Iran memperingatkan bahwa AS berusaha memaksakan tuntutan maksimalis dalam potensi kesepakatan tersebut.
Pejabat politik dan militer Iran juga berulang kali menegaskan negara itu siap menghadapi Amerika Serikat dan Israel jika agresi baru kembali dimulai, lebih dari sebulan setelah gencatan senjata diumumkan untuk menghentikan putaran konflik sebelumnya.
Baca juga: Trump Klaim AS Hampir Serang Iran Lagi, Batal Satu Jam Sebelum Dimulai