Ebola Berpotensi Menyebar Secara Global, Indonesia Bisa Terdampak?

Ilustrasi Pexels

Ebola Berpotensi Menyebar Secara Global, Indonesia Bisa Terdampak?

Muhamad Marup • 21 May 2026 17:31

Jakarta: Wabah ebola kembali menjadi sorotan usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan adanya kasus penyebaran ebola di Kongo dan Uganda. Atas temuan tersebut, WHO menetapkan Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Profesor dari University College London (UCL), Alimuddin Zumla, menerangkan, PHEIC merupakan peringatan tertinggi kesehatan global dari WHO. Peringatan ini merupakan sinyal bahwa suatu wabah berpotensi berdampak secara internasional dan negara-negara harus bekerja sama secara cepat.

Peringatan ini membantu untuk membuka pendanaan, dukungan teknis, dan mempercepat kooperasi internasional. Meski demikian, status tersebut tidak berarti bahwa pandemi tidak bisa dihindari.

"PHEIC tidak menutup terjadinya pandemi global tidak bisa dihindari. Status tersebut merupakan alat untuk mobilisasi secara cepat dan terkoordinasi," ujar Zumla, mengutip laman resmi UCL, Kamis, 21 Mei 2026.

Mobilitas yang tinggi berpotensi memperluas penyebaran wabah ebola. Penerbangan internasional bisa menyebabkan hal tersebut, tapi tidak sampai menjadikan ebola sebagai wabah global.

"Penyebaran ebola membutuhkan kontak fisik yang erat. Pengawasan internasional dan sistem skrining di bandara dapat membantu mendeteksi kasus sejak dini," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memastikan wabah ebola di Uganda dan Kongo bukan merupakan kedaruratan pandemi. Kepastian tersebut juga sesuai dengan kesepakatan Komite Darurat yang telah dibentuk.

"Disepakati bahwa situasi tersebut merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, tetapi bukan keadaan darurat pandemi," tegasnya, mengutip situs WHO.

WNI di Kongo dan Uganda

Dalam konteks Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Nairobi telah mengimbau Warga Negara Indonesia yang ada di Kongo dan Uganda untuk tenang, tapi tetap waspada. Kedubes meminta WNI mengikuti perkembangan dan peraturan otoritas kesehatan setempat.

KBRI Nairobi juga meminta WNI untuk segera melapor kepada otoritas tersebut jika mengalami gejala-gejala terpapar penyakit ebola. WNI juga diminta untuk menghindari kontak fisik dengan yang terinfeksi serta menjaga higienitas dan sanitasi diri.

Untuk situasi darurat dan mengancam nyawa di wilayah negara-negara akreditasi KBRI Nairobi, WNI dapat menghubungi nomor +254-748-763-122.

Indonesia harus bersiap


Ilustrasi Pexels


Sementara itu, pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan, meski dampak pandemi dari ebola minim, Indonesia harus melakukan persiapan. Meski begitu, ia tidak menyarankan Indonesia untuk menutup total pintu masuk dari negara luar. 

Ia mengatakan, peningkatan kualitas perlu dilakukan pada standar pengotatan dan skrining pintu masuk negara. Ia menyebut beberapa pelaku perjalanan internasional yang harus diberi pengawasan khusus.

"Jadi surveilans epidemiologi pintu masuk internasional bandara, pelabuhan, laut, jalur migrasi pekerja, jemaah haji juga umroh dan pelaku perjalanan internasional dari Afrika memang sudah harus dijaga betul tertata dari saat ini sampai ke depan," ungkapnya.

Dicky menambahkan, kesiapan laboratorium BSL-3 dan BSL-4 serta sistem pengetesan harus ditingkatkan. Termasuk kesiapan rumah sakit dan tenaga kesehatan dalam menerapkan simulasi outbreak.

"Karena banyak pelajaran di masa pandemi negara itu gagal bukan karena virusnya terlalu kuat, tapi sebetulnya karena sistem kesehatan terlambat bereaksi," terangnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)