Iran Sebut Serangan Terbaru AS Langgar Gencatan Senjata

Asap dari serangan AS dan Israel di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. (Anadolu Agency)

Iran Sebut Serangan Terbaru AS Langgar Gencatan Senjata

Willy Haryono • 27 May 2026 08:44

Teheran: Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah melancarkan serangan baru terhadap sejumlah sasaran di dekat Selat Hormuz pada Selasa, 26 Mei 2026.

Dikutip dari AsiaOne, Rabu, 27 Mei 2026, serangan tersebut dinilai berpotensi mempersulit upaya internasional untuk mengakhiri konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung hampir tujuh pekan.

Ledakan keras dilaporkan terdengar di wilayah tersebut pada Selasa pagi.

Sebaliknya, pihak AS mengklaim serangan udara dilakukan untuk membela diri dengan menargetkan situs rudal dan kapal yang diduga hendak memasang ranjau laut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan proses finalisasi kesepakatan damai kemungkinan masih membutuhkan beberapa hari.

Rubio menyebut kedua pihak telah mencapai kemajuan dalam penyusunan draf awal perjanjian untuk menghentikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kesepakatan awal itu disebut akan memberi waktu 60 hari bagi para negosiator untuk membahas isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.

Media Iran melaporkan Teheran terus mendesak agar memorandum kesepahaman tersebut juga mencakup pencairan aset Iran bernilai miliaran dolar yang dibekukan di luar negeri.

Selat Hormuz Jadi Fokus Utama

Usai serangan udara AS, Rubio menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Konflik yang dimulai sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah mengguncang pasokan energi global.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang biasanya menjadi jalur seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, turun tajam sejak perang pecah.

Harga minyak mentah Brent juga dilaporkan naik sekitar 3,5 persen hingga mendekati USD100 per barel pada Selasa.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan tetap memiliki hak untuk melakukan aksi balasan.

IRGC mengklaim telah menembak jatuh satu drone AS dan melepaskan tembakan ke arah drone serta jet tempur lain yang dianggap memasuki wilayah udara Iran.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam pesan tertulisnya menjelang musim haji menegaskan slogan anti-AS dan anti-Israel kini menjadi seruan bersama umat Islam dan kelompok tertindas di dunia.

“Mulai sekarang, slogan ‘Mampuslah Amerika’ dan ‘Mampuslah Israel’ akan menjadi slogan umat Islam dan orang-orang yang tertindas di dunia,” kata Khamenei, dikutip AsiaOne, Rabu, 27 Mei 2026.

Lebanon Kembali Dibombardir

Di tengah proses negosiasi, Israel juga meningkatkan operasi militer di Lebanon. Sumber keamanan Lebanon mengatakan lebih dari 120 serangan udara Israel menghantam wilayah selatan dan timur Lebanon pada Selasa.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan tersebut menewaskan 31 orang dan melukai 40 lainnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan militer Israel tengah memperdalam operasi tempur dengan pengerahan pasukan dalam skala besar.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mendorong negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, untuk bergabung dalam Abraham Accords.

Namun Arab Saudi menegaskan tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa adanya peta jalan jelas menuju pembentukan negara Palestina merdeka. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Mengenal Abraham Accords, Perjanjian Normalisasi Hubungan Israel Rintisan Trump

(Willy Haryono)