Pentagon Bantah Serangan ke Iran Akan Jadi Perang Berkepanjangan

Gedung di Teheran, Iran yang hancur dibom AS-Israel. Foto: The New York Times

Pentagon Bantah Serangan ke Iran Akan Jadi Perang Berkepanjangan

Muhammad Reyhansyah • 3 March 2026 13:20

Washington: Pentagon meredam kekhawatiran bahwa serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran akan menyeret Washington ke konflik baru yang terbuka dan berkepanjangan di Timur Tengah. 

Meski demikian, para pejabat enggan memberikan batas waktu operasi dan memperingatkan bahwa korban tambahan di pihak AS masih mungkin terjadi.

Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terbesar mereka terhadap Iran dalam beberapa dekade pada Sabtu lalu. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menenggelamkan 11 kapal perang Iran, serta menghantam lebih dari 1.250 target sejauh ini.

Dalam pengarahan pertama Pentagon sejak konflik dimulai, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menyatakan bahwa pencapaian tujuan militer AS di Iran akan membutuhkan waktu.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth merinci sasaran operasi dalam kerangka militer, yakni menghancurkan angkatan laut Iran dan kemampuan rudalnya yang dinilai dapat melindungi upaya terselubung Teheran untuk mengembangkan senjata nuklir di kemudian hari. Iran membantah memiliki ambisi senjata nuklir.

“Kepada media dan kalangan kiri politik yang berteriak ‘perang tanpa akhir’ — berhenti. Ini bukan Irak. Ini bukan perang tanpa akhir,” ujar Hegseth, dikutip dari Asia One, Selasa, 3 Maret 2026.

Namun ketika ditanya mengenai durasi kampanye militer, Hegseth menolak memberikan kepastian, seraya mengatakan Presiden AS tidak akan dibatasi tenggat waktu. Penolakan itu muncul setelah Presiden sebelumnya menyiratkan bahwa serangan dapat berlangsung hingga empat pekan ke depan.

Korban di Pihak AS

Serangan gabungan AS-Israel memicu balasan dari Iran. Pasukan AS dan sekutunya di kawasan berhasil mencegat banyak drone dan rudal yang dinilai paling berbahaya, tetapi sebagian serangan tetap menimbulkan kerugian.

Militer AS pada Senin menyatakan total enam personel militernya telah tewas akibat operasi terkait Iran. Enam lainnya mengalami luka pada hari yang sama dalam satu insiden ketika sistem pertahanan udara Kuwait secara keliru menembak jatuh tiga jet tempur F-15. Selain itu, beberapa personel lain dilaporkan mengalami luka serius.

“Kami memperkirakan akan ada tambahan korban,” kata Caine, sembari menambahkan bahwa AS akan berupaya meminimalkan kerugian, namun menegaskan bahwa ini merupakan operasi tempur besar.

Kritik Politik

Sejumlah anggota Partai Demokrat menuduh Presiden Donald Trump mempertaruhkan nyawa warga Amerika dalam perang pilihan. Mereka juga mengkritik keputusannya meninggalkan jalur diplomasi yang menurut mediator Oman masih memiliki peluang.

Trump berpendapat, tanpa memaparkan bukti, bahwa Iran tengah berada di jalur untuk segera memiliki kemampuan meluncurkan rudal balistik ke Amerika Serikat. Namun klaim tersebut tidak didukung laporan intelijen AS dan dinilai berlebihan oleh sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan itu.

Dalam pengarahan tertutup kepada staf Kongres, pejabat pemerintahan mengakui tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang lebih dulu pasukan AS. Pernyataan ini tampak berbeda dengan pernyataan publik sebelumnya yang menyebut keputusan menyerang diambil sebagian karena indikasi potensi serangan pendahuluan Iran.

Salah satu pejabat menyebut Presiden tidak akan “berdiam diri dan membiarkan pasukan Amerika di kawasan menjadi sasaran serangan.”

Survei Reuters/Ipsos yang dirilis akhir pekan menunjukkan hanya satu dari empat warga Amerika mendukung serangan terhadap Iran, sebagian karena kekhawatiran atas keselamatan pasukan AS. Sejumlah analis menilai hal ini dapat memengaruhi dukungan politik menjelang pemilu sela November.

Eskalasi Militer

Sementara itu, ketika perang udara AS-Israel meluas pada Senin, Caine mengatakan penambahan kekuatan militer AS di Timur Tengah terus berlangsung, bahkan setelah pengerahan terbesar sejak invasi Irak tahun 2003.

Kendati serangan udara terus digencarkan, para pemimpin konservatif Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerahkan kekuasaan. Sejumlah pakar militer menilai kekuatan udara tanpa kehadiran pasukan darat mungkin tidak cukup untuk menggulingkan mereka.

Hegseth menegaskan tidak ada pasukan darat AS yang diterjunkan saat ini, namun ia juga tidak sepenuhnya menutup kemungkinan tersebut.

“Kami tidak akan terjebak pada pernyataan tentang apa yang akan atau tidak akan kami lakukan. Presiden Trump memastikan musuh memahami bahwa kami akan melangkah sejauh yang diperlukan untuk memajukan kepentingan Amerika,” kata Hegseth.

“Namun kami tidak gegabah. Anda tidak perlu mengerahkan 200.000 personel dan bertahan selama 20 tahun,” tambah Hegseth.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)