Naik atau Turun? Simak Arah Harga Minyak Dunia Sepanjang 2026

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Naik atau Turun? Simak Arah Harga Minyak Dunia Sepanjang 2026

Ade Hapsari Lestarini • 25 March 2026 13:17

Jakarta: Harga minyak mentah dunia masih berpotensi kuat untuk melaju hingga paruh kedua tahun ini. Kendati ketegangan geopolitik sudah mewarnai harga minyak dunia sejak awal tahun.

"Mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, serta dimulainya perang AS-Iran, mendorong harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh level USD90 per barel pada awal Maret ini, dari sebelumnya di level USD57 per barel pada awal Januari 2026," ungkap Analis dari Research and Development ICDX Girta Putra Yoga, dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu, 25 Maret 2026.

Dia mengungkapkan, melihat dari situasi dan perkembangan yang ada di pasar saat ini, harga minyak dunia pada 2026 diproyeksikan akan berada di kisaran harga USD95-USD100 per barel. Sementara level support di kisaran harga USD80-USD75 per barel.

"Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS-Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump," jelas dia.


 

Tantangan harga minyak dunia


Komoditas minyak mentah mengalami tantangan sepanjang 2025. Laju harga rata-rata emas hitam ini mencatatkan penurunan lebih dari 21 persen ke level USD60 per barel pada akhir penutupan 2025. Padahal, harga rata-rata di awal tahun sempat mencapai level USD77 per barel.

"Pada paruh pertama, harga minyak mentah mengalami penurunan sebesar hampir 10 persen, dengan harga rata-rata diperdagangkan di kisaran level USD69 per barel," ujar Girta.

Dia memaparkan, pergerakan harga minyak mentah global dibayangi oleh tekanan dari perang tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Tiongkok, serta beberapa mitra dagang utamanya seperti Kanada dan Meksiko.

Imbasnya, harga minyak mentah rata-rata terpantau bergerak bearish atau turun hingga menyentuh level USD62 per barel pada Mei. Sebelum akhirnya kembali menguat usai AS dan Tiongkok menyepakati untuk melakukan jeda tarif selama 90 hari.

"Harga terus menguat hingga penutupan kuartal pertama didukung oleh sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah pasca-Israel melancarkan operasi 'Rising Lion' ke Iran," jelas dia.

Namun, tren penguatan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pembukaan paruh kedua, ancaman tarif AS yang lebih tinggi meskipun sejumlah negara telah melakukan negosiasi dengan itikad baik, membuat laju minyak mentah kembali tertekan.

Selain itu, isyarat kelompok aliansi OPEC+ untuk meningkatkan produksi, dan dimulainya fase pertama gencatan senjata Gaza pada Oktober lalu membuat harga minyak mentah global bergerak bearish sepanjang paruh kedua 2025. Harga rata-rata mengalami penurunan sebesar hampir 13 persen, dan diperdagangkan di kisaran level USD64 per barel.

"Harapan optimis akan penguatan harga minyak mentah global kembali terlihat pada awal 2026. Penegasan komitmen dari aliansi produsen OPEC yang menyatakan akan mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah," ujar Girta Putra Yoga.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)