Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Seluruh Kekuatan Militer Jika Diserang

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Anadolu Agency)

Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Seluruh Kekuatan Militer Jika Diserang

Muhammad Reyhansyah • 21 January 2026 16:13

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan peringatan paling keras sejauh ini kepada Amerika Serikat (AS), dengan menegaskan bahwa Teheran akan “membalas dengan seluruh kekuatan yang dimiliki” jika kembali diserang. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional menyusul penindakan berdarah terhadap aksi protes di Iran.

Komentar Araghchi muncul pada Rabu, 21 Januari 2026, bertepatan dengan pergerakan satu kelompok kapal induk AS yang dilaporkan bergerak ke arah barat menuju Timur Tengah dari kawasan Asia. Di saat yang sama, undangan Araghchi untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos disebut telah dicabut di tengah eskalasi kekerasan dalam negeri Iran.

Dalam artikel opini yang dimuat di The Wall Street Journal, Araghchi menyebut fase kekerasan dalam aksi protes Iran berlangsung “kurang dari 72 jam” dan menuding demonstran bersenjata sebagai pihak yang memicu kerusuhan.

Namun, sejumlah rekaman video yang beredar dari Iran menunjukkan aparat keamanan menggunakan peluru tajam terhadap demonstran tak bersenjata, meski klaim tersebut tidak disinggung dalam tulisan Araghchi.

“Tidak seperti sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan ragu untuk membalas dengan seluruh kemampuan yang kami miliki jika kembali diserang,” tulis Araghchi, merujuk pada perang singkat antara Israel dan Iran pada Juni lalu.

Mengutip TRT World, Rabu, 21 Januari 2026, ia menambahkan bahwa pernyataannya bukan dimaksudkan sebagai ancaman. “Ini bukan ancaman, melainkan kenyataan yang perlu saya sampaikan secara jelas, karena sebagai diplomat dan veteran, saya membenci perang,” tulisnya.

Araghchi juga memperingatkan bahwa konfrontasi terbuka akan berdampak luas dan berlangsung lama. Menurutnya, konflik berskala penuh akan meluas ke kawasan yang lebih besar dan membawa konsekuensi serius bagi masyarakat sipil di berbagai negara.

Sejumlah negara di Timur Tengah, terutama dari kawasan Teluk, dilaporkan melobi Presiden AS Donald Trump agar tidak melancarkan serangan terhadap Iran. Pekan lalu, Teheran menutup wilayah udaranya, langkah yang ditafsirkan sebagai antisipasi terhadap potensi serangan militer.

Eskalasi Militer dan Krisis Domestik Iran

Data pelacakan kapal menunjukkan USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya berada di Laut China Selatan, telah melintasi Selat Malaka dan bergerak ke arah barat. Seorang pejabat Angkatan Laut AS mengatakan kapal induk tersebut bersama tiga kapal perusak pengawal menuju kawasan Samudra Hindia, meski tujuan akhirnya tidak diumumkan secara resmi.

Sementara itu, situasi domestik Iran masih diliputi krisis. Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan sedikitnya 4.519 orang tewas akibat penindakan aparat dalam gelombang protes anti-pemerintah sejak Desember. Lembaga tersebut juga mencatat lebih dari 26.300 orang ditangkap.

Angka tersebut menjadikan gelombang protes kali ini sebagai salah satu yang paling berdarah dalam sejarah modern Iran, bahkan melampaui sebagian besar kerusuhan dalam beberapa dekade terakhir.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu lalu mengakui bahwa “beberapa ribu” orang telah tewas, sekaligus menyalahkan Amerika Serikat atas instabilitas yang terjadi. Pernyataan tersebut menjadi pengakuan resmi pertama dari pejabat tertinggi Iran mengenai skala korban.

Isu korban sipil dan potensi hukuman mati terhadap para demonstran disebut menjadi salah satu titik krusial dalam ketegangan antara Washington dan Teheran, di tengah ancaman terbuka konfrontasi militer yang semakin nyata.

Baca juga:  Trump Tegaskan Iran Akan 'Dihapus dari Muka Bumi' Jika Dirinya Dibunuh

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)