"Hingga 29 Juli 2026, BPBD bersama berbagai mitra telah mendistribusikan sebanyak 753.000 liter air bersih atau setara 146 tangki kepada masyarakat terdampak kekeringan," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Taryo, Kamis, 30 Juli 2026.
Sebanyak 420.000 liter atau 84 tangki berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cilacap. Sisanya, 328.000 liter atau 62 tangki, merupakan bantuan dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan berbagai mitra kemanusiaan.
Menurut Taryo, penanganan dampak kekeringan dilakukan melalui kerja sama lintas sektor agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
"Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, dan berbagai pihak menjadi kunci dalam penanganan bencana kekeringan. Kami terus mengoptimalkan distribusi air bersih ke wilayah-wilayah yang membutuhkan," ujarnya.
Sejumlah lembaga turut berkontribusi dalam penyaluran bantuan melalui program CSR. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cilacap menjadi penyumbang terbesar dengan menyalurkan 51 tangki atau 255.000 liter air bersih.
Pertamina Patra Niaga melalui Siaga Peduli Kabupaten Cilacap menyumbang tujuh tangki atau 53.000 liter, sedangkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy menyalurkan empat tangki atau 20.000 liter.
Pada Rabu, 29 Juli 2026, BPBD kembali mendistribusikan delapan tangki air bersih ke enam titik di empat kecamatan. Bantuan disalurkan ke SMP Negeri Satu Atap 4 Kawunganten, Desa Karangkemiri di Kecamatan Jeruklegi, Desa Bojong dan Desa Kalijeruk di Kecamatan Kawunganten, Desa Layansari di Kecamatan Gandrungmangu, serta Desa Binangun di Kecamatan Bantarsari.
.jpg)
Ilustrasi Medcom.id
Taryo menjelaskan bahwa distribusi air bersih akan terus berjalan sesuai dinamika kebutuhan di lapangan. BPBD juga memantau wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan menghemat pemakaian selama musim kemarau. Warga juga diminta menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia dan segera melapor kepada pemerintah desa atau BPBD apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
"Kami mengajak masyarakat bersama-sama menghemat penggunaan air dan segera melapor apabila mulai mengalami krisis air bersih, sehingga bantuan dapat segera kami salurkan," kata Taryo.
BPBD Cilacap memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan organisasi kemanusiaan akan terus diperkuat untuk menjamin kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi hingga musim kemarau berakhir.