Zelensky Curigai Kesiapan Putin Berunding sebagai Trik Politik

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: EFE-EPA

Zelensky Curigai Kesiapan Putin Berunding sebagai Trik Politik

Muhammad Reyhansyah • 26 October 2026 11:55

Kyiv: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai kesiapan menggelar perundingan damai berpotensi menjadi “trik politik” untuk menghindari peningkatan ketegangan dengan Washington menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS).

Dalam wawancara dengan penyiar Ukraina, TSN, Minggu, 25 Oktober 2026 Zelensky mengatakan, niat Kremlin akan terlihat dari tindakan nyata dan kesediaannya mencapai kesepakatan. 

Menurutnya, perundingan trilateral yang direncanakan berlangsung pada November akan menjadi ujian untuk mengetahui apakah pernyataan Putin tersebut merupakan sebuah trik.

Zelensky mengatakan, Kyiv siap mengikuti perundingan trilateral tingkat kelompok teknis pada November. Namun, ia menegaskan pembicaraan itu harus menghasilkan kemajuan konkret.

Jika kesepakatan menyeluruh belum dapat dicapai, Zelensky mengusulkan sejumlah langkah alternatif, termasuk gencatan senjata di sektor energi, kesepakatan mengenai keamanan maritim dan pengiriman gandum, pertukaran seluruh tahanan, atau pertemuan antara pemimpin Ukraina, AS, dan Rusia.

“Energi, gandum, manusia—semua itu merupakan hal konkret. Sementara itu, pertemuan di tingkat pemimpin merupakan kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang konkret setelah pertemuan trilateral kami. Inilah yang kami minta dan usulkan,” kata Zelensky, dikutip dari Anadolu, Senin, 26 Oktober 2026.

Wilayah Jadi Garis Merah

Terkait persoalan wilayah, Zelensky menegaskan isu tersebut hanya dapat dibahas pada tingkat pemimpin negara. Ia menyebut persoalan itu sebagai “garis merah” bagi Ukraina.

Zelensky juga menolak pembatasan terhadap angkatan bersenjata Ukraina maupun persyaratan agar negaranya mempertahankan status netral.

“Kami tidak menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kami siap untuk berdiskusi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa persoalan lainnya dapat dibahas oleh kelompok teknis.

Zelensky juga menegaskan tidak ingin Ukraina mengikuti pertemuan trilateral tingkat pemimpin setelah sanksi terhadap Moskow dicabut.

“Saya tidak ingin kita berada dalam pertemuan dengan Putin tanpa alat tawar—tanpa sanksi, tanpa uang, atau tanpa aset yang dibekukan. Karena dengan begitu, seperti yang dikatakan Trump, kita benar-benar tidak akan memiliki banyak kartu di tangan,” katanya.

Gencatan Senjata Lokal di Oleshky

Dalam wawancara tersebut, Zelensky juga membahas rencana gencatan senjata lokal di Kota Oleshky, Ukraina, yang berada di bawah kendali Rusia. Rencana tersebut disebut diusulkan AS mulai 27 Oktober dan akan berlangsung selama beberapa hari untuk memungkinkan misi kemanusiaan memasuki wilayah itu.

Gagasan gencatan senjata tersebut diatur dengan keterlibatan Ibu Negara AS Melania Trump.

Zelensky mengatakan pasukan Rusia perlu membersihkan ranjau di jalan-jalan agar akses kemanusiaan dapat dibuka. Namun, ia mengkhawatirkan Moskow akan berusaha mengarahkan warga yang dievakuasi menuju wilayah Rusia, alih-alih membiarkan mereka pergi secara bebas.

“Tentu saja, Rusia akan melakukan segala cara untuk membersihkan ranjau di jalan sedemikian rupa agar orang-orang ini pergi ke Rusia dan tetap tinggal di sana. Mereka tidak akan begitu saja membebaskan orang-orang,” ujarnya.

Ia menambahkan sebagian warga sipil akan dievakuasi menuju wilayah yang dikuasai Ukraina. Zelensky menegaskan prioritas utama adalah mengakhiri blokade dan memastikan warga dapat hidup dengan aman.

“Dalam kondisi ideal, mereka seharusnya dapat mencapai tujuan mereka dan dievakuasi ke sini, kepada kami, ke Ukraina, yang akan menyediakan semua kebutuhan mereka dan memberikan dukungan,” kata Zelensky.

(Fajar Nugraha)