BGN Wajibkan SPPG Prioritaskan Peternak Susu Lokal untuk MBG

Kepala BGN Sudaryono saat menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Aceh pada Selasa (13/10/2026). ANTARA/HO-BGN

BGN Wajibkan SPPG Prioritaskan Peternak Susu Lokal untuk MBG

Achmad Zulfikar Fazli • 14 October 2026 16:44

Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memprioritaskan peternak susu lokal untuk menyuplai Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab, program MBG berorientasi pada pemenuhan gizi masyarakat, serta memperkuat penyerapan produk pangan dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal. 

"Mulai 1 November tahun ini, susu yang dibagikan kepada anak-anak kita di sekolah harus sesuai dengan ketentuan yang kami putuskan, yakni 80 persen harus susu segar yang berasal dari peternak lokal," ujar Kepala BGN Sudaryono dalam keterangan tertulis, dilansir dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.

Sudaryono menekankan pentingnya menghubungkan kebutuhan pangan dalam pelaksanaan MBG dengan potensi produksi pertanian dan peternakan di daerah. Penggunaan susu segar dalam negeri diharapkan dapat mendorong pertumbuhan usaha peternakan di berbagai daerah, termasuk wilayah yang berpotensi mengembangkan peternakan sapi perah.   

"Dengan demikian, kebutuhan pangan untuk program pemerintah dapat menjadi peluang ekonomi bagi produsen lokal sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat," kata Sudaryono.

Ilustrasi susu. Dok. Pexel


Dia menegaskan penguatan keterlibatan peternak lokal perlu berjalan beriringan dengan upaya pemerintah meningkatkan produksi pangan nasional. Ketersediaan bahan pangan yang memadai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pelaksanaan MBG sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar negeri.   

Sudaryono menjelaskan keberhasilan pelaksanaan MBG juga ditopang kemampuan Indonesia menjaga ketersediaan dan meningkatkan produktivitas pangan nasional. Dia mencontohkan perkembangan produksi pertanian di Aceh yang didukung perbaikan irigasi, penyediaan pompa air, pupuk, serta benih.

“Intervensi tersebut membantu petani meningkatkan frekuensi panen dan produktivitas lahan, termasuk pada wilayah yang sebelumnya hanya dapat melakukan panen satu kali dalam setahun," ucap Sudaryono.

(Achmad Zulfikar Fazli)