Kepala BGN: Program MBG Tingkatkan Konsumsi Protein Anak Indonesia

Kepala BGN Sudaryono saat meninjau pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Cot Meuraja, Aceh Besar. Foto: ANTARA/HO-BGN.

Kepala BGN: Program MBG Tingkatkan Konsumsi Protein Anak Indonesia

Fachri Audhia Hafiez • 13 October 2026 20:23

Jakarta: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan bahwa konsumsi protein anak-anak di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Hal ini seiring masifnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Konsumsi protein itu dengan MBG ini di anak-anak juga jadi naik, kalau enggak salah dari 30 atau 40 persen, kemudian naik menjadi hampir 80 persen," ujar Sudaryono usai meninjau pembagian MBG di SDN Cot Meuraja, Aceh Besar, dilansir Antara, Selasa, 13 Oktober 2026.
 


Sudaryono menjelaskan bahwa MBG tidak hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan pangan harian peserta didik. Namun, menjadi pendorong utama kebiasaan makan sehat sejak dini.

Selain meningkatkan asupan protein, pelaksanaan program MBG terbukti efektif mengurangi jumlah siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar. Saat ini, persentase siswa yang mengalami kondisi tersebut ditekan hingga berada di angka 14 persen secara nasional.

Namun, Sudaryono menekankan pentingnya melihat capaian ini secara objektif dalam skala nasional. hal ini mengingat kondisi pemenuhan gizi anak di tiap daerah sangat bervariasi.

"Kita tidak bisa mengukur keadaan siswa itu berdasarkan keadaan siswa yang ada di ibu kota atau di kota-kota besar. Ini secara agregat keseluruhan seluruh Indonesia," kata Sudaryono.


Ilustrasi penyajian MBG. Foto: Dok. Istimewa.

Lebih lanjut, MBG dinilai berfungsi sebagai sarana edukasi gizi seimbang bagi anak-anak. Karena tingkat pemahaman gizi masyarakat belum merata, keterlibatan tenaga pendidik atau guru di sekolah menjadi kunci penting penanaman kebiasaan sehat tersebut.

"Bukan kok kita kasih makan gurunya, melainkan gurunya diberikan (makanan) dalam rangka edukasi gizi, mengapa mesti ada serat, sayur, buah, mengapa mesti makan sayur, anak-anak yang enggak suka sayur, jadi harus suka dan lain sebagainya," tutur Sudaryono.

Melalui pendampingan di lingkungan sekolah, BGN berharap pola makan bergizi seimbang dan beragam tidak hanya dipahami oleh para siswa, tetapi juga dapat diterapkan hingga ke lingkungan keluarga di rumah.

(Fachri Audhia Hafiez)