BGN: Siswa yang Lapar saat Belajar di Sekolah Berkurang Sejak Ada MBG

Kepala BGN Sudaryono (dua dari kanan) berbincang dengan seorang siswa pada pembukaan secara serentak 980 SPPG di wilayah 3T dan stunting tinggi di Aceh Besar pada Rabu (14/10/2026). ANTARA/HO-BGN

BGN: Siswa yang Lapar saat Belajar di Sekolah Berkurang Sejak Ada MBG

Anggi Tondi Martaon • 14 October 2026 23:30

Jakarta: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memaparkan sejumlah dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya, menurunkan angka siswa yang lapar saat belajar.

"Alhamdulillah, dengan adanya program MBG ini, dari 56 persen peserta didik yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar, turun 50 persen menjadi 16 persen. Kami berharap angka ini bisa terus turun hingga nol, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar," ujar Sudaryono dalam peresmian SPPG wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Aceh Besar, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.

Selain memenuhi kebutuhan pangan, MBG  berkaitan dengan peningkatan konsumsi protein hewani pada peserta didik. Berdasarkan data yang disampaikan Sudaryono, tingkat konsumsi protein hewani meningkat dari 26 persen sebelum program menjadi 84 persen setelah program berjalan.
 


Peningkatan tersebut menunjukkan pentingnya ketersediaan makanan bergizi bagi anak-anak usia sekolah. Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging, merupakan bagian dari asupan yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

"Jadi, konsumsi protein hewani anak-anak kita meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen. Masih ada 16 persen anak-anak yang wilayahnya belum tersentuh MBG. Ini menjadi tanggung jawab kami agar mereka sesegera mungkin mendapatkan haknya di sekolah masing-masing," ungkap Sudaryono.

Perubahan pola konsumsi juga terlihat pada buah dan sayur. Sudaryono menyampaikan, tingkat konsumsi buah dan sayur yang sebelumnya berada di angka 65 persen meningkat menjadi 90 persen setelah pelaksanaan MBG.


Ilustrasi MBG. Foto: Metrotvnews.com/Siti Yona Hukmana.

Meski demikian, pemenuhan gizi tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan di sekolah. Pembentukan kebiasaan makan sehat juga membutuhkan edukasi yang berkelanjutan agar peserta didik memahami fungsi setiap kelompok pangan dan terbiasa mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

Oleh karena itu, Sudaryono menekankan pentingnya keterlibatan guru dan orang tua dalam memberikan pemahaman mengenai kebutuhan gizi anak. Edukasi tersebut diharapkan dapat mendorong anak untuk mengonsumsi makanan beragam, termasuk sayuran dan buah-buahan, baik di sekolah maupun di rumah.

BGN memandang peningkatan akses terhadap makanan bergizi dan penguatan edukasi gizi perlu berjalan beriringan. Dengan demikian, manfaat MBG tidak hanya dirasakan melalui penyediaan makanan, tetapi juga melalui terbentuknya kebiasaan konsumsi yang lebih baik bagi generasi mendatang.

(Anggi Tondi)