Basuki Tjahaja Purnama, Jenny Lee, dan Anindya Bakrie. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.
Kolaborasi Manusia dan AI Jadi Kunci Hadapi Tantangan Ekonomi Global
Husen Miftahudin • 15 October 2026 13:35
Jakarta: Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menekankan pentingnya kolaborasi antara manusia dan teknologi artificial intelligence (AI) untuk menghadapi tantangan ekonomi.
Pemanfaatan teknologi dinilai perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, serta penguatan etika dan karakter.
Ahok mengatakan, tantangan ekonomi saat ini tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, tetapi juga terjadi di tingkat global. Karena itu, Indonesia perlu menggabungkan keunggulan teknologi dengan kemampuan manusia agar dapat bertahan di tengah perubahan ekonomi.
"Ya intinya kan ini dalam situasi ekonomi bukan cuma Indonesia nih, di tingkat global paling masalah. Nah tentu kita mesti siap kan, penduduk kita banyak. Nah gimana menggabungkan keunggulan teknologi, AI dengan orang?" kata Ahok usai pembukaan forum ITC Leadership Conclave 2026 di Hotel Le Meridien Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
Ia menilai perkembangan AI berpotensi menimbulkan tantangan bagi tenaga kerja, termasuk risiko pemutusan hubungan kerja (PHK). Di sisi lain, perubahan tersebut perlu diimbangi dengan persiapan pendidikan dan penguatan jejaring agar masyarakat mampu beradaptasi dengan kebutuhan baru.
"Satu pihak bisa jadi PHK. Lainnya satu pihak menyiapkan pendidikan, terus networking. Jadi kita pakai prinsip seperti ini, semua jadi murid, semua jadi guru gitu loh. Jadi kita tarik belajar, itu intinya sih," ujar dia.
Menurut Ahok, pemanfaatan AI seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai pengganti tenaga manusia. Teknologi perlu digunakan untuk membantu pekerjaan, sementara kemampuan manusia dalam menentukan arah, mempertimbangkan nilai kemanusiaan, dan mengambil keputusan tetap menjadi bagian penting.
AI wajib diimbangi kecerdasan emosional
Pandangan serupa disampaikan Anindya Bakrie. Ia menilai pemanfaatan AI perlu disertai kecerdasan emosional atau emotional intelligence agar teknologi yang digunakan tetap memberikan manfaat bagi manusia.
"AI mesti ngerti juga yang penting itu emotional intelligence juga penting. Karena akhirnya kan manusia. Kita tidak pengen kayak di film Terminator, mereka yang ngatur-ngatur gitu kan," kata Anindya.
Ia mengingatkan pengembangan teknologi tidak boleh berhenti pada kemampuan teknis semata, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Selain itu, pelaku usaha perlu melihat perkembangan AI sebagai kesempatan untuk meningkatkan daya saing.
"Saya mau menutup ya, jadi AI itu jangan cuma fokusnya kepada artificial intelligence, tapi kita juga fokus kepada actual intelligence yang ada di kita, orangnya," kata dia.
(Ilustrasi AI. Foto: dok Metrotvnews.com)
Tekankan pentingnya etika dan karakter
Ahok juga menyoroti aspek etika, empati, dan nilai kemanusiaan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI. Manusia perlu tetap memiliki standar moral dalam mengambil keputusan, terutama ketika teknologi semakin banyak digunakan dalam aktivitas ekonomi.
"Dua-duanya harus dikombinasikan, jadi antara teknologi dan manusia. Gak bisa cuma teknologi aja atau manusia aja," ujar Ahok.
Ia menambahkan, penguatan sumber daya manusia (SDM) perlu mencakup pemahaman mengenai etika, kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Perpaduan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan karakter akan membantu SDM Indonesia menjadi lebih unggul.
"Nah dengan komplit seperti itu saya yakin SDM Indonesia akan unggul. Karena sila pertama aja Ketuhanan Yang Maha Esa kok, kan bukan keuangan yang Maha Esa kan?" ujar dia.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer (CEO) Jenny Lee menekankan pentingnya kolaborasi di tengah kondisi global yang penuh tantangan. Menurut dia, seluruh sumber daya yang ada perlu dioptimalkan untuk menghadapi situasi tersebut.