101 tahun peradaban pendidikan di Tanah Papua. (Dok. Metro TV)
101 Tahun Pendidikan Papua, Wondama Serukan Setiap Rumah Jadi Sekolah
Duta Erlangga • 2 November 2026 17:59
Teluk Wondama: Membangun masa depan Papua yang berdaya tanpa kehilangan akar budaya menjadi pesan utama peringatan 101 tahun peradaban pendidikan di Tanah Papua. Dari Aitumeiri, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, pemerintah daerah bersama tokoh adat, gereja, akademisi, dan masyarakat menyerukan gerakan pendidikan yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembelajaran.
Peringatan yang berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026, ini tidak sekadar menjadi momentum mengenang sejarah. Memasuki abad kedua peradaban pendidikan Papua, masyarakat diajak memperkuat peran keluarga dan lingkungan dalam membentuk generasi penerus melalui tema “Membangun Peradaban dari Rumah” dengan subtema “Setiap Rumah adalah Sekolah dan Setiap Orang ialah Guru”.
Aitumeiri, yang terletak di kawasan Miei, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, merupakan salah satu tonggak penting lahirnya pendidikan modern di Tanah Papua.
Lebih dari satu abad lalu, tepatnya pada 25 Oktober 1925, misionaris sekaligus pendidik asal Belanda, Pendeta Izaak Samuel Kijne, meletakkan dasar pendidikan modern bagi masyarakat Papua. Dari tempat sederhana itu, tumbuh harapan agar orang Papua mampu membaca dunia, mengembangkan pengetahuan, serta memimpin dirinya sendiri tanpa meninggalkan identitas budaya.
Dalam sejarah pendidikan Papua, Kijne dikenal dengan nubuat yang terus melekat dalam ingatan masyarakat. “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian dan makrifat yang tinggi, ia tidak dapat mengubah bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Nubuat tersebut menjadi landasan semangat untuk terus memajukan pendidikan Papua hingga memasuki abad kedua.
Pada peringatan tahun ini, semangat tersebut diwujudkan melalui Deklarasi Wondama untuk Tanah Papua Menuju Abad Kedua Peradaban Pendidikan. Deklarasi dibacakan Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Daerah Kabupaten Teluk Wondama, Adrian Worengga, dalam rangkaian ibadah peringatan.
Deklarasi menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, gereja, dan masyarakat adat. Setiap rumah dipandang sebagai ruang belajar, sementara setiap individu memiliki peran dalam proses pembelajaran sepanjang hayat.
Usai pembacaan deklarasi, para deklarator menandatangani dokumen yang dipimpin Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan. Penandatanganan dilanjutkan dengan prasasti abad kedua peradaban pendidikan di Tanah Papua.
Baca Juga :
Polisi Peduli Pendidikan: Polda Papua Barat Ajak Pelajar Jauhi Narkoba dan Kembangkan Potensi Diri
Bupati Teluk Wondama, Elysa Auri, mengatakan peringatan 101 tahun pendidikan Papua harus dimaknai lebih dari sekadar mengenang perjalanan sejarah.
"Filosofi setiap rumah adalah sekolah dan setiap orang ialah guru merupakan hasil permenungan yang mulai dikembangkan sejak peringatan satu abad pendidikan Papua pada tahun sebelumnya. Filosofi tersebut berakar pada tradisi masyarakat Papua yang menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai ruang pewarisan nilai. Relasi orang tua dan anak, suami dan istri, serta interaksi antargenerasi menjadi bagian penting dalam membentuk karakter, moral, dan pengetahuan," kata Elysa.
Elysa berharap gagasan tersebut dapat disampaikan kepada kalangan akademisi untuk didalami dan dikaji, sehingga dapat menjadi landasan dalam membangun sistem pendidikan yang lebih kontekstual dan berakar pada budaya masyarakat Papua.
"Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda," katanya.
Dukungan terhadap gagasan tersebut juga datang dari perguruan tinggi di Tanah Papua. Rektor Universitas Ottow Geissler Papua, Dr. Pilipus Ramandei, menyatakan komitmen institusinya untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Teluk Wondama.
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang berada di bawah naungan gereja, Universitas Ottow Geissler Papua berkomitmen berkontribusi dalam transformasi pengembangan sumber daya manusia di Tanah Papua.
"Filosofi yang dibangun Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama dapat menjadi pendekatan penting dalam memperkuat pendidikan yang melibatkan keluarga dan masyarakat," ucap Ramandei.
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Papua (UNIPA), Profesor Joni Marwa, menjelaskan perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut melalui keterlibatan sivitas akademika.
"Mahasiswa dapat dilibatkan secara langsung dalam kegiatan praktik kerja lapangan maupun kuliah kerja nyata berbasis tematik. Kegiatan tersebut dapat diarahkan untuk mendukung pemerintah daerah dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan pendidikan yang menjadikan setiap rumah sebagai sekolah dan setiap orang sebagai guru," ujar Profesor Joni.
Kolaborasi juga diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat, sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada pembelajaran formal, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata di lingkungan setempat.
Ketua Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) di Tanah Papua, Pendeta Abraham Ungirwalu, menilai gagasan yang diusung Bupati Teluk Wondama sejalan dengan filosofi pendidikan sepanjang hayat dan peran keluarga dalam proses pembelajaran.
“Pendidikan itu diletakkan di dalam keluarga. Setiap anggota keluarga adalah bagian dari sebuah proses pembelajaran dan edukasi yang berlangsung secara terus-menerus,” ujarnya.
Semangat membangun pendidikan dari rumah juga dirasakan para guru yang setiap hari menghadapi berbagai keterbatasan di lapangan. Mereka menjalankan tugas di wilayah perkotaan, pesisir, kepulauan, hingga kampung-kampung pedalaman Papua Barat, khususnya Kabupaten Teluk Wondama.
Salah satu guru, Frankie Sembuari, mengaku terharu dapat menjadi saksi sekaligus pelaku dalam momentum bersejarah memasuki abad kedua peradaban pendidikan Papua.
Keterlibatan orang tua sangat penting dalam mendukung proses pendidikan anak. Anak yang datang dari rumah membawa nilai-nilai yang telah ditanamkan keluarga sebelum melanjutkan pembelajaran di sekolah.
“Anak itu datang dari rumah, maka orang tua juga mempunyai kontribusi yang besar untuk melakukan proses pendidikan, khususnya di rumah. Setelah dari rumah, anak akan datang ke sekolah. Setelah dari sekolah, dia akan kembali ke rumah,” kata Frankie.
Memasuki abad kedua peradaban pendidikan Papua, berbagai tantangan masih menjadi pekerjaan bersama. Pemerataan tenaga pendidik, peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi, hingga akses pendidikan di wilayah terpencil masih membutuhkan perhatian serius.
Namun, dari Aitumeiri, semangat optimisme kembali disuarakan. Pendidikan Papua diharapkan tumbuh melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat, dengan keluarga sebagai fondasi dan budaya sebagai akar yang memperkuat karakter generasi penerus.