Mahasiswa dari delapan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) menghadirkan berbagai inovasi pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber daya. Istimewa
Mahasiswa PTKIN Olah Limbah Sawit dan Batik untuk Dukung Kelestarian Lingkungan
Whisnu Mardiansyah • 8 November 2026 08:28
Yogyakarta: Mahasiswa dari delapan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) menghadirkan berbagai inovasi pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber daya dalam kompetisi OASE III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beragam gagasan tersebut menggabungkan pendekatan teknologi dan kepedulian terhadap lingkungan dengan nilai-nilai keagamaan.
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam cabang lomba Ekoteologi: Tata Kelola Limbah dan Lingkungan Hidup di Teatrikal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Karya yang ditampilkan mencakup pengolahan cangkang kelapa sawit, limbah batik, sampah dapur, hingga pemanfaatan air bekas wudu.
Melalui karya-karya tersebut, mahasiswa berupaya menerjemahkan tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi menjadi rancangan material, teknologi, dan sistem pengelolaan lingkungan. Persoalan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari menjadi titik awal pengembangan berbagai solusi.
Tim UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, misalnya, memperkenalkan ECOPALM ROSTER, inovasi yang mengolah limbah cangkang kelapa sawit menjadi roster ramah lingkungan. Sementara itu, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengembangkan Granobara, granul berbahan limbah nasi dan tulang yang ditujukan untuk mendukung pertanian berkelanjutan dengan mengacu pada nilai anti-israf atau larangan pemborosan.
Inovasi pengelolaan limbah dapur juga dikembangkan mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh melalui MAZA TECH. Produk ini berupa penangkap lemak dengan keluaran ganda yang terintegrasi dengan sabun cuci piring berbahan senduduk. Pengembangannya diarahkan untuk mengurangi pencemaran sekaligus mendukung pengelolaan limbah dapur berkelanjutan berdasarkan fikih lingkungan.
Sementara itu, pendekatan berbasis teknologi digital diperkenalkan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui MIU-CONNECT. Platform kolaboratif tersebut mengintegrasikan timbangan sampah pintar berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah di lingkungan pesantren.
Inovasi serupa dikembangkan tim UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui Berkasih Smart. Sistem terintegrasi berbasis kecerdasan buatan tersebut dirancang untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah dan penerapan ekonomi sirkular.
Pemanfaatan air di lingkungan masjid menjadi perhatian dua tim lainnya. Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta menghadirkan ECO-WUDHU GOVERNANCE, model tata kelola air bekas wudu berbasis fiqh al-bi’ah. Model ini menggunakan audit pemanfaatan air dan penentuan prioritas penggunaan air di masjid perkotaan.
Adapun mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengembangkan Smart Eco-Masjid sebagai laboratorium hidup ekoteologi. Konsep tersebut menggabungkan kecerdasan buatan dan IoT atau AIoT, akuaponik, serta gamifikasi untuk mendukung konservasi air dan ekonomi sirkular.
ECO-RETOX, Inovasi Pengolahan Limbah Produksi Batik
Salah satu inovasi lainnya berasal dari tim UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Mereka mengangkat persoalan limbah produksi batik melalui karya bertajuk ECO-RETOX atau Ekoteologi Reduksi Limbah Tekstil.
Tim tersebut merancang sistem filtrasi dengan memanfaatkan biomassa lokal. Setelah digunakan sebagai bahan penyaring, biomassa tersebut kemudian diolah kembali menjadi briket.
Pengembangan inovasi ini berangkat dari perhatian terhadap dampak limbah kegiatan produksi batik. Sebagai salah satu warisan Indonesia sekaligus sumber penghidupan masyarakat, kegiatan produksi batik memerlukan pengelolaan limbah agar tidak menimbulkan pencemaran di lingkungan sekitarnya.
Indra Tri Rahayu, Rehan Putra Candra, Siti Mas Ayu Miftahurrohmah, Aliyya Safira Kahla, dan Elza Cahyaning Maharani mengembangkan ECO-RETOX sebagai upaya menawarkan pengolahan limbah yang dapat mendukung kegiatan produksi batik sekaligus memperhatikan kelestarian lingkungan.
“Biomassa lokal dimanfaatkan sebagai bahan filtrasi. Setelah digunakan, biomassa tersebut diolah kembali menjadi briket. Dengan rancangan itu, mereka berupaya memperpanjang pemanfaatan bahan dan mengurangi sisa yang terbuang,” ungkap Elza, salah satu anggota tim.
Anggota tim lainnya, Indra, menjelaskan inovasi tersebut juga berangkat dari sejumlah prinsip dalam ajaran Islam. Nilai yang digunakan meliputi khalifah dan amanah, anti-fasad atau larangan berbuat kerusakan, serta anti-israf atau larangan menyia-nyiakan sumber daya.
Prinsip tersebut menjadi landasan dalam merancang sistem pengolahan limbah. Tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi diwujudkan melalui upaya mengolah sisa produksi, sedangkan nilai anti-israf diterapkan dengan mencari manfaat lanjutan dari biomassa yang telah digunakan.
Sebelum mencapai tahap presentasi final, kelima mahasiswa tersebut melalui sejumlah tahapan pengembangan. Prosesnya mencakup eksplorasi bahan, uji coba produk, hingga pengujian. Hasil pengembangan kemudian dituangkan dalam karya tulis yang mengantarkan mereka lolos ke tahap presentasi kompetisi.
“Kami akan menyempurnakan ECO-RETOX, baik dari segi bahan maupun perangkat. Kami juga ingin mengembangkan alat tersebut menuju skala industri yang lebih besar. Untuk mencapai arah itu, pengembangan dan pengujian lanjutan menjadi bagian penting dari perjalanan karya Kami,” ungkap Aliyya.