Status Waspada, Radius Bahaya Gunung Ile Lewotolok Diperluas Jadi 3 Km

Visual Gunung Ili Lewotolok, 19 Oktober 2026 malam/Foto: Magma Indonesia

Status Waspada, Radius Bahaya Gunung Ile Lewotolok Diperluas Jadi 3 Km

Palce Amalo • 21 October 2026 18:34

Lembata: Aktivitas erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menurun pada awal Oktober 2026. Namun, ancaman bahaya dilaporkan masih tinggi. 

Badan Geologi kemudian memperluas radius rekomendasi bahaya dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 3 kilometer di sektor selatan dan tenggara, menyusul peningkatan aktivitas vulkanik setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026. Status gunung api tersebut tetap Level II (Waspada).  

"Penurunan aktivitas visual belum cukup menjadi dasar untuk mengurangi kewaspadaan," ujar Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan evaluasi aktivitas Gunung Ile Lewotolok periode 1-15 Oktober 2026, dirilis pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Rekaman kegempaan masih menunjukkan aktivitas erupsi yang dominan, sementara selama periode evaluasi, mencatat 1.234 kali gempa erupsi, 2.014 kali gempa embusan, 39 kali gempa guguran, 34 kali tremor nonharmonik, enam kali gempa vulkanik dalam, empat kali gempa tektonik lokal, dan 47 kali gempa tektonik jauh.

Menurut Lana, kolom erupsi masih mencapai 600 meter di atas puncak, sedangkan asap hembusan mencapai 300 meter. Erupsi terkadang disertai suara gemuruh dan dentuman dengan intensitas lemah hingga sedang. Kondisi ini menunjukkan aktivitas vulkanik masih berlangsung meskipun aktivitas erupsi dan hembusan secara visual mengalami penurunan.

“Berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental, Gunung Ili Lewotolok menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, terutama aktivitas aliran lava,” kata dia.  

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur/dok. Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok.

Selain itu, enam kali gempa vulkanik dalam tercatat selama evaluasi Oktober, mengindikasikan proses peretakan batuan akibat suplai magma. Deformasi gunung juga masih menunjukkan pola pengempisan dan penggembungan.

Menurutnya, guguran lava teramati meluncur hingga 700 meter ke tenggara, sedangkan aliran lava sebelumnya mencapai 1.800 meter ke selatan dan 1.100 meter ke timur laut dari bibir kawah. Potensi guguran lava dan awan panas tetap perlu diwaspadai, terutama di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut.
 
"Penurunan aktivitas visual belum menghilangkan potensi bahaya sehingga masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan," pesan Lana. 

Sementara itu, pada Selasa, 20 Oktober 2026, Gunung Ili Lewotolok tercatat erupsi sebanyak 88 kali ldengan kolom asap putih dan kelabu setinggi 300-400 meter serta 108 kali gempa hembusan.  Asap kawah teramati setinggi 100-200 meter, api diam terlihat di puncak, dan aliran lava menjulur sekitar 600 meter ke sektor tenggara. 

(Lukman Diah Sari)