Riset Cegah TBC Libatkan 40 Ribu Partisipan di 4 Daerah

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Riset Cegah TBC Libatkan 40 Ribu Partisipan di 4 Daerah

Siti Yona Hukmana • 22 October 2026 14:37

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan riset Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) guna menemukan efektivitas intervensi gizi dalam penanggulangan tuberkulosis (TBC). Penelitian berskala besar ini dijadwalkan berlangsung lima tahun dengan melibatkan puluhan ribu partisipan di beberapa wilayah Indonesia.

“Ini akan kita jawab bersama-sama yang studinya akan berlangsung selama 5 tahun. Lebih dari 40.000 partisipan,” kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2026.

Penetapan lokasi riset difokuskan pada empat wilayah perkotaan dan daerah yang memiliki beban kasus TBC cukup tinggi. Penelitian ini telah didukung kesiapan infrastruktur yang akan dibutuhkan selama proses riset.

“Ada empat daerah. Jakarta, Depok, Bogor, dan Lombok. Empat daerah ini kenapa kita pilih? Karena salah satu daerah-daerah yang angka TB-nya tinggi yang bisa terjangkau dan kolaborasinya dengan pemerintah,” ujar Dante.

Kegiatan peluncuran riset Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON). Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Melalui penelitian ini, Kemenkes optimistis dapat melahirkan strategi pencegahan dan pengobatan TBC yang lebih baik di masa depan. Intervensi nutrisi dinilai menjadi kunci pelengkap yang selama ini belum tergarap optimal dalam terapi pengobatan TBC.

“Menentukan arah kita pada pengobatan dan pendekatan untuk terapi TB di masa depan yang lebih agresif yang selama ini kita tidak bisa kejar hanya dengan pengobatan medis saja. Mungkin nutrisi adalah salah satu jawaban yang akan mendampingi pengobatan TB secara medikamentosa,” ungkap Dante.

Dante menekankan keberhasilan penanganan TBC membutuhkan sinergi lintas sektor. Tidak dapat hanya dibebankan kepada fasilitas pelayanan kesehatan semata.

“Penanggulangan TB sebuah tantangan besar tidak milik Kementerian Kesehatan saja, tetapi juga berperan di dalamnya akademisi, klinisi, sektor swasta, dan masyarakat luas,” kata Dante.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Siti Yona Hukmana)