Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (MTVN/Roni K)
Kualitas Udara Menurun, Farhan Petakan Warga Bandung Rentan ISPA
Roni Kurniawan • 19 October 2026 14:53
Bandung: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai memetakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan. Langkah mitigasi ini diambil guna merespons tren penurunan kualitas udara di kawasan Cekungan Bandung, meskipun wilayah tersebut dipastikan tidak terdampak langsung oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Sumatra dan Kalimantan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan kekhawatiran terkait polusi udara sempat mencuat sejak Sabtu pekan lalu, menyusul prediksi arah angin yang berpotensi membawa asap karhutla ke Jawa Barat. Namun, berdasarkan data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), arah angin telah bergeser menjauhi Bandung.
"Tapi kualitas udara di Cekungan Bandung tetap perlu diwaspadai. Karena di sejumlah titik dan periode pemantauan bahkan sempat menunjukkan kondisi udara yang sangat tidak sehat," ujar Farhan di Bandung, Senin, 19 Oktober 2026.
Sementara itu, situs pemantau independen *IQAir* mencatat angka Indeks Kualitas Udara (AQI) Bandung berada di kisaran 110 dengan polutan utama berupa partikel halus PM2,5. Menanggapi perbedaan angka tersebut, Farhan mengingatkan bahwa kedua indikator menggunakan parameter yang berbeda, namun masyarakat tetap diminta tidak lengah.
"Walaupun alhamdulillah tidak dinyatakan tidak sehat, tetapi bukan berarti kita tidak waspada," tegasnya.

Ilustrasi-Suasana di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat. (Metrotvnews.com/Roni/2025)
Sebagai tindak lanjut kedaruratan, Farhan telah menginstruksikan Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung untuk segera melakukan asesmen terhadap kelompok rentan. Kelompok ini mencakup siswa dengan riwayat asma dan bronkitis, serta masyarakat yang memiliki keluhan pernapasan lainnya.
Secara khusus, Farhan juga menyoroti keberadaan ribuan penderita tuberkulosis (TBC) di Kota Bandung yang wajib diprioritaskan dalam radar mitigasi risiko kesehatan jika kualitas udara terus memburuk.
"Nah, itu sebabnya kami sedang melakukan asesmen. Kemudian melakukan mitigasi risiko terhadap terjadinya pemburukan kualitas udara," ungkap Farhan.