Musim Kemarau, BPBD Temanggung Imbau Pendaki Waspada Karhutla

Ilustrasi: Sekelompok pemuda mendaki Gunung Sindoro via Basecamp Kledung Kabupaten Temanggung. ANTARA/Heru Suyitno

Musim Kemarau, BPBD Temanggung Imbau Pendaki Waspada Karhutla

Silvana Febiari • 21 July 2026 14:47

Temanggung: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengimbau seluruh pendaki meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pendaki juga diminta mematuhi aturan pendakian, terutama terkait penggunaan api untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BPBD Kabupaten Temanggung Totok Nursetyanto mengatakan imbauan tersebut menyusul kondisi vegetasi di sejumlah jalur pendakian yang mulai mengering dan berpotensi memicu karhutla.

"Apabila dalam kondisi darurat pendaki terpaksa menggunakan api, penggunaannya harus benar-benar diperhatikan. Setelah selesai digunakan, api harus dipastikan benar-benar padam. Bara api sekecil apa pun dapat memicu kebakaran hutan yang berdampak luas," kata Totok, dilansir dari Antara, Selasa, 21 Juli 2026. 
 


Berdasarkan hasil pemantauan, kawasan di atas Pos 4 jalur pendakian Gunung Sumbing mengalami kekeringan. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di jalur pendakian gunung lainnya, sehingga diperlukan kewaspadaan.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD berkoordinasi dengan pengelola basecamp pendakian di Gunung Prau, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Koordinasi dilakukan untuk memperketat pemantauan terhadap aktivitas pendaki, sekaligus memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai keselamatan selama musim kemarau.

Selain mengingatkan bahaya penggunaan api, pengelola basecamp diminta memberikan edukasi kepada pendaki agar menyiapkan perlengkapan yang memadai sebelum mendaki. Pendaki juga diimbau membawa pakaian hangat karena suhu di kawasan puncak tetap dingin saat musim kemarau, sehingga tidak perlu menggunakan api untuk menghangatkan tubuh.


Gunung Sumbing. (Dokumentasi/ Metro TV)


Meskipun musim kemarau menghadirkan pemandangan pegunungan yang lebih cerah dan indah, kata dia, hampir seluruh vegetasi seperti ilalang dan semak belukar dalam kondisi kering. Situasi tersebut menyebabkan kawasan menjadi sangat rentan terhadap kebakaran hutan apabila terdapat sumber api yang tidak terkendali.

Ia telah menjalin koordinasi dengan Perhutani dan pengelola basecamp pendakian guna memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan melalui pengawasan, sosialisasi, dan peningkatan kesadaran para pendaki.

Totok mengimbau masyarakat yang akan mendaki agar selalu mematuhi aturan di setiap basecamp dan mengutamakan keselamatan. Ia juga mengajak pendaki ikut menjaga kelestarian kawasan hutan untuk mencegah kebakaran selama musim kemarau.

(Silvana Febiari)