Founder Black Sherpa, Musa Arridho. Dok: Metro TV
Jadi Peserta Terjuragan, Black Sherpa Fokus Kembangkan Manufaktur Tenda Lokal
Putri Purnama Sari • 5 July 2026 18:21
Jakarta: Berawal dari sulitnya mendapatkan tenda ultralight di Indonesia, Black Sherpa berkembang menjadi salah satu merek perlengkapan outdoor lokal yang telah menjual lebih dari empat ribu tenda sejak berdiri pada 2019.
Dalam ajang Juragan Jaman Now (JJN) Season 5, founder Black Sherpa, Musa Arridho, memaparkan ambisinya membangun industri manufaktur tenda dalam negeri. Untuk mewujudkan hal tersebut, dia menawarkan 15 persen saham perusahaan dengan kebutuhan pendanaan Rp1,5 miliar.
Menurut Musa, peluang bisnis tenda outdoor di Indonesia masih sangat besar karena sebagian besar produk yang beredar diproduksi di luar negeri.
"Ini bukan soal mendanai sebuah brand tenda biasa. Ini adalah kesempatan untuk ikut serta membangun industri manufacturing tenda pertama di Indonesia," ujar Musa dalam tayangan Juragan Jaman Now Season 5, yang dikutip Minggu, 5 Juni 2026.
Dia menyebut nilai pasar tenda outdoor di Indonesia diperkirakan mencapai Rp600 miliar. Namun, belum banyak produsen lokal yang memiliki fasilitas produksi sendiri.
"Black Sherpa hadir untuk menyelesaikan gap tersebut. Kami membangun manufacturing tenda sendiri di dalam negeri," lanjut Musa.
Baca Juga :
Tahu Sumedang MS Tampil di JJN, Bisnis Turun Temurun yang Raup Omzet Rp1 Miliar per Tahun
Sudah Terjual 4.000 Unit, Penjualan 100 Persen Online
Dalam sesi tanya jawab, panelis Reino Barack menyoroti pencapaian penjualan Black Sherpa yang mencapai lebih dari empat ribu unit.Musa menjelaskan seluruh penjualan dilakukan secara online. Selain itu, sekitar 20 hingga 30 persen konsumennya merupakan pelanggan yang melakukan pembelian ulang.
"Sebagian ada yang repeat order, dan dari repeat order ini ada komunitasnya tersendiri yang terus berkembang," tambah Musa.
Dia juga menjelaskan seluruh proses produksi dilakukan secara handmade dengan bantuan mesin industri agar kualitas produk tetap terjaga.
Sistem Pre-Order Jadi Tantangan Terbesar

Tenda Black Sherpa, dok: Metro TV
Meski permintaan terus meningkat, Black Sherpa masih menerapkan sistem pre-order karena keterbatasan kapasitas produksi. Akibatnya, pelanggan harus menunggu cukup lama sebelum produk diterima.
"PO-nya bisa sampai tiga bulan bahkan satu tahun. Justru rating kami agak rendah bukan karena produknya, tetapi karena lamanya waktu tunggu. Black Sherpa memang terkenal dengan lamanya," ungkap Musa.
Mentor Peter Shearer menilai tambahan modal akan membantu Black Sherpa meningkatkan kapasitas produksi sehingga tidak lagi bergantung pada sistem pre-order.
"Dengan adanya modal ini mereka bisa produksi lebih banyak, punya inventaris, sehingga kapan pun orang mau beli tinggal beli. Opportunity-nya tidak hilang," kata Peter.
Andalkan Produk Lokal dan Layanan Perbaikan
Saat ditanya mengenai keunggulan produk, Musa mengatakan Black Sherpa mengembangkan tenda yang ringan, aman digunakan, sekaligus diproduksi di Indonesia.Selain itu, perusahaan menyediakan layanan perbaikan produk (repair gear), sesuatu yang menurutnya menjadi nilai tambah dibandingkan produk impor.
Dia juga mengungkapkan Black Sherpa menjadi brand tenda lokal pertama yang menerapkan sejumlah teknologi penguatan material untuk meningkatkan keamanan saat digunakan di alam terbuka.
Panelis Soroti Pentingnya Cerita di Balik Brand
Panelis Rex Marindo menilai Black Sherpa memiliki produk yang fungsional. Namun, dia menyarankan perusahaan membangun ikatan emosional dengan konsumen agar mampu bersaing dengan merek-merek besar."Kalau ini diperkuat dengan cerita sebagai karya anak bangsa, itu bisa menjadi emotional approach. Karena kalau hanya bicara produk fungsional, kompetitor besar juga bisa menawarkan kualitas dan harga yang kompetitif," ujar Rex.
Sementara itu, Peter Shearer menilai Black Sherpa memiliki fondasi kuat untuk berkembang. Menurut dia, bisnis tersebut lahir dari passion, berada di industri outdoor yang sedang bertumbuh, serta memiliki peluang besar apabila didukung sistem manajemen dan kapasitas produksi yang lebih matang.
"Ini local pride. Bisnis ini lahir dari passion, tren outdoor juga terus naik, dan yang paling menarik adalah potensinya untuk berkembang jauh lebih besar dengan dukungan investor dan manajemen yang tepat," ujar Peter.
Baca Juga :
Black Sherpa Dinobatkan sebagai Terjuragan Episode Ini
Tak hanya berhasil mendapatkan perhatian panelis, Black Sherpa dinobatkan sebagai Terjuragan pada episode tersebut. Black Sherpa mendapatkan dana bantuan Rp10 juta.Mewakili panelis, Irwan Mussry, mengatakan keputusan tersebut diambil karena Black Sherpa memiliki kualitas penting yang harus dimiliki seorang pengusaha, mulai dari semangat, passion, hingga kesiapan membangun struktur bisnis yang kuat.
"Seorang juragan atau entrepreneur harus mempunyai drive dan passion, itu sangat penting sekali. Selain itu, kami juga melihat Black Sherpa sudah mempersiapkan dan mempelajari struktur bisnisnya dengan baik. Dengan dua hal itu saja kami bisa dengan cepat memutuskan bahwa Black Sherpa menjadi Terjuragan pada hari ini," ujar Irwan.
Menurut dia, kesiapan struktur bisnis menjadi salah satu aspek yang sering kali diabaikan pelaku usaha. Padahal, hal tersebut merupakan fondasi penting sebelum sebuah bisnis dapat berkembang ke tahap berikutnya.
Dia pun berharap pencapaian Black Sherpa dapat menjadi contoh bagi peserta lainnya untuk tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga membangun sistem dan struktur bisnis yang matang.