Indonesia Punya 14 Megathrust Sumber Gempa, Simak Daftarnya

Peta segmentasi megathrust di Indonesia pada tahun 2024. (Dok. Kementerian PU)

Indonesia Punya 14 Megathrust Sumber Gempa, Simak Daftarnya

Riza Aslam Khaeron • 2 April 2026 20:26

Jakarta: Indonesia kembali dikejutkan oleh gempa besar. Pada Kamis, 2 April 2026, gempa magnitudo 7,6 mengguncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara, berpusat di barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate.

BMKG mengonfirmasi bahwa gempa ini masuk kategori megathrust dan memicu peringatan dini tsunami yang mencakup Kota Ternate, Halmahera, Kota Bitung, hingga Minahasa. Tsunami sempat terdeteksi di beberapa titik sebelum peringatan resmi dinyatakan berakhir pada pukul 09.56 WIB.

Peristiwa tersebut mengingatkan kita kembali pada fakta yang tidak berubah: Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko gempa megathrust tertinggi di dunia. Letaknya di atas pertemuan lempeng-lempeng tektonik raksasa menjadikan Indonesia rumah bagi belasan zona subduksi aktif yang sewaktu-waktu dapat melepaskan energi dahsyat.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terbaru yang diterbitkan pada 2024 oleh Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU), Indonesia kini memiliki 14 segmen megathrust yang diidentifikasi sebagai sumber gempa aktif.

Berikut daftar lengkapnya dalam Bahasa Indonesia.
 

Daftar 14 Segmen Megathrust Indonesia (2024)

No Segmen Megathrust Potensi (Mmax) Periode Ulang Sejarah Kegempaan
1 Megathrust Aceh-Andaman 9,2 ~600 tahun 1881 M 7,4; 1941 M 7,6; 2004 Mw 9,15
2 Megathrust Nias-Simeulue 8,7 ~580 tahun 1861 Mw ~8,5; 2005 Mw 8,7
3 Megathrust Batu 7,8 ~150 tahun 1935 Mw 7,7
4 Megathrust Mentawai-Siberut 8,9 ~330 tahun Bagian belum rupture dari 1797 & 1833
5 Megathrust Mentawai-Pagai 8,9 ~330 tahun 2007 Mw 8,5; 2010 Mw 7,8
6 Megathrust Enggano 8,9 ~330 tahun 2000 Mw 7,0
7 Megathrust Jawa 9,1 ~600 tahun
8 Megathrust Jawa Barat 8,9 ~400 tahun 1699; 1780 Mw 8,5
9 Megathrust Jawa Timur 8,9 ~400 tahun 1903 Mw 8,1; 2006 Mw 7,8
10 Megathrust Sumba 8,5 1916 Mw 7,2; 1994 Mw 7,8
11 Megathrust Lengan Utara Sulawesi 8,5 1538; 1877; 1996; 2008 Mw 7,4
12 Megathrust Cotobato / Palung Subduksi Cotobato 8,3 Gempa Mindanao 1976 Mw 8,8
13 Megathrust Filipina Tengah 8,1
14 Megathrust Filipina Selatan 8,2 1924

Dari 14 segmen di atas, yang paling besar potensinya adalah Megathrust Aceh-Andaman (Mw 9,2) dan Megathrust Jawa (Mw 9,1). Keduanya memiliki periode ulang gempa besar hingga sekitar 600 tahun.

Sementara segmen Megathrust Mentawai-Siberut menjadi salah satu yang paling diwaspadai karena sebagian areanya belum melepaskan energi (belum rupture) sejak gempa besar 1797 dan 1833.
 
Baca Juga:
7 Gempa Megathrust Terbesar dalam Sejarah Indonesia
 

Dinamika Perubahan Segmentasi Megathrust Indonesia (2010 - 2024)

Model megathrust Indonesia terus berkembang seiring ditemukannya data baru. Segmentasi megathrust Indonesia berdasarkan laporan dari Kemen PU setidaknya telah 3 kali mengalami perubahan yaitu pada tahun 2010, 2017, dan 2024. Berdasarkan data, jumlah segmen berkembang dari 11 (2010) menjadi 13 (2017), lalu menjadi 14 (2024).

Berikut ini ringkasan perubahan utamanya:
 

1. Sumatra

Perubahan paling jelas terjadi di Sumatra. Pada model 2010, para ahli masih menggunakan nama blok besar seperti Andaman-Sumatra, Nias, Siberut, Southern Sumatra, dan satu konsep gabungan Enggano-Selat Sunda.

Memasuki tahun 2017, pembagian ini dibuat lebih spesifik menjadi Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, hingga Selat Sunda yang berdiri sendiri.

Pada tahun 2024, perubahan utama bukan lagi soal menambah nama, melainkan menata ulang hubungan antarsegmen. Hal paling penting adalah segmen Enggano digabung dengan setengah segmen Selat Sunda, sehingga Selat Sunda tidak lagi berdiri sendiri.


Peta segmen megathrust di Indonesia pada tahun 2010. (Kemen PU)
 

2. Jawa

Di Jawa, model tahun 2010 masih sangat sederhana karena hanya mencatat dua wilayah, yakni Jawa dan Sumba. Pada tahun 2017, pemahaman para ahli mulai berubah dengan membagi wilayah menjadi Selat Sunda + Jawa Barat-Tengah, Jawa Timur, dan Sumba, yang menunjukkan selatan Jawa tidak lagi dianggap sebagai satu zona seragam.

Puncaknya pada tahun 2024, pembagian dibuat jauh lebih halus menjadi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumba.

Selain itu, model 2024 juga memperkenalkan skenario "large rupture" (Megathrust Jawa) dengan potensi Mw 9,1 yang memperingatkan kemungkinan pecahnya beberapa segmen Jawa secara bersamaan dalam satu gempa raksasa.
 

3. Sulawesi Utara

Wilayah ini mengalami peningkatan kewaspadaan yang cukup signifikan.

Pada tahun 2010, zona ini disebut Northern Sulawesi dengan kekuatan maksimal Mw 7,9. Tahun 2017, namanya berubah menjadi North Sulawesi Megathrust dan potensinya naik drastis menjadi Mw 8,5.

Perubahan potensi ini sangat krusial karena menunjukkan risiko yang jauh lebih besar dari perkiraan awal. Pada tahun 2024, namanya kembali disempurnakan menjadi Megathrust Lengan Utara Sulawesi dengan potensi tetap di Mw 8,5.


Peta segmen megathrust di Indonesia pada tahun 2017. (Kemen PU)

4. Filipina

Pada model 2010, peta hanya menampilkan satu unit besar bernama Philippine, yang kemudian diubah menjadi Philippine Trench pada tahun 2017. Namun, pada pemutakhiran tahun 2024, segmen ini resmi dipecah menjadi dua bagian, yaitu Megathrust Filipina Tengah dan Megathrust Filipina Selatan.

Alasan utama pemecahan ini adalah karena ujung selatan megathrust Filipina lokasinya sangat dekat dengan wilayah Indonesia, khususnya Morotai dan Kepulauan Talaud.
 

5. Megathrust Cotobato / Palung Subduksi Cotobato

Cotobato merupakan tambahan yang benar-benar baru karena belum ada pada model tahun 2010 maupun 2017. Baru pada tahun 2024, zona ini dimasukkan ke dalam daftar megathrust sumber gempa nasional.

Meski secara geografis berada di wilayah Filipina, Cotobato dimasukkan ke dalam model 2024 karena sejarah gempa besarnya di masa lalu dan jaraknya yang sangat dekat dengan Kepulauan Talaud.
 

6. Papua Megathrust

Ini adalah salah satu perubahan paling fundamental dalam sejarah pemetaan gempa kita. Pada model 2010 dan 2017, Papua Megathrust masih terdaftar sebagai zona megathrust.

Namun, pada tahun 2024, para ahli memutuskan untuk mengubah kategorinya secara total menjadi sumber gempa kerak bumi dangkal atau North Papua Thrust.
 

7. Laut Maluku/Halmahera–Sangihe

Perubahan perspektif sains juga terjadi di wilayah Laut Maluku. Jika pada tahun 2017 masih tercatat adanya dua megathrust di wilayah ini (Halmahera dan Sangihe), maka pada tahun 2024 kategori tersebut dihapus.

Para ahli di tahun 2024 menilai bahwa gerakan tektonik di sana lebih tepat disebut sebagai zona kolisi atau tabrakan antarbusur, bukan proses subduksi murni yang menghasilkan megathrust.

Daftar 14 megathrust ini adalah cermin dari kompleksitas tektonik Indonesia yang tidak ada tandingannya di dunia. Gempa megathrust di Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada 2 April 2026 adalah pengingat nyata bahwa ancaman ini bukan teori — melainkan kenyataan yang hidup di bawah kaki kita. 

Pemahaman tentang di mana saja zona megathrust berada, dan seberapa besar potensinya, adalah langkah pertama yang paling penting menuju kesiapsiagaan bencana yang lebih baik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)