7 Gempa Megathrust Terbesar dalam Sejarah Indonesia

Kerusakan kawasan Gampong Ulee Lheue di Banda Aceh. Foto diambil Februari 2005. (Prof Hermann M. Fritz di buku Aceh Pasca Lima Belas Tahun Tsunami publikasi Universitas Syiah Kuala)

7 Gempa Megathrust Terbesar dalam Sejarah Indonesia

Riza Aslam Khaeron • 2 April 2026 16:25

Jakarta: Pada Kamis, 2 April 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Berpusat di barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate, BMKG mengonfirmasi bahwa gempa ini termasuk dalam kategori megathrust — jenis gempa bumi paling merusak yang memiliki potensi besar memicu tsunami.

Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan untuk sejumlah wilayah terdampak sebelum akhirnya dinyatakan berakhir pada pukul 09.56 WIB.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Indonesia, yang terletak di titik temu lempeng tektonik raksasa dunia, memiliki catatan panjang gempa megathrust yang dahsyat. Fenomena ini terjadi ketika lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua pada zona subduksi, melepaskan energi raksasa yang terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun.

Dampaknya sering kali berupa guncangan hebat yang menghancurkan bangunan sekaligus tsunami yang menyapu kawasan pesisir.

Berikut adalah tujuh gempa megathrust terbesar dalam sejarah Indonesia, diurutkan berdasarkan besaran kekuatannya.
 

1. Gempa Bumi Sumatra 2004 — Segmen Aceh-Andaman (Mw 9,1)

Peristiwa ini merupakan puncak bencana megathrust modern dan gempa terbesar yang pernah tercatat di Indonesia. Terjadi pada 26 Desember 2004, gempa ini bersumber dari antarmuka India-Burma di bagian utara sistem Sunda Megathrust.

Berdasarkan data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa ini memiliki magnitudo magnitudo momen (Mw) 9,1 dengan durasi patahan (rupture) yang menjalar sepanjang 1.200–1.300 kilometer selama 3–4 menit.

Durasi yang luar biasa lama ini menempatkannya dalam kelas ekstrem dalam ilmu seismologi. Tsunami yang dihasilkan menyapu bersih pesisir Aceh, melintasi Samudra Hindia, dan dilaporkan menelan lebih dari 227 ribu korban jiwa di berbagai negara.
 

2. Gempa Bumi Sumatra 1833 — Segmen Mentawai-Pagai (Mw ~8,6–9,2)

Gempa historis ini sering disebut sebagai tandingan kedahsyatan tsunami Aceh 2004. Terjadi di lepas pantai Sumatra bagian selatan hingga kawasan Mentawai, USGS mencatat bahwa gempa tahun 1833 ini memicu tsunami besar yang membanjiri seluruh pantai barat Sumatra bagian selatan.

Karena terjadi sebelum era seismograf modern, angka magnitudonya diperkirakan berada di rentang 8,6 hingga 9,2. Para ahli memandangnya sebagai salah satu pelepasan energi terbesar yang memecah bagian selatan zona subduksi Sumatra dalam sejarah tertulis.
 

3. Gempa Bumi Sumatra 2005 — Segmen Nias-Simeulue (Mw 8,6)

Hanya berselang tiga bulan setelah bencana Aceh, segmen di sebelah selatannya kembali pecah pada 28 Maret 2005. Bersumber dari segmen Nias-Simeulue pada antarmuka Lempeng Australia dan Sunda, patahan gempa ini membentang sekitar 400 kilometer dari Pulau Simeulue hingga Kepulauan Batu.

Melansir laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla, memperkirakan jumlah korban jiwa mencapai 1.000 hingga 2.000 orang akibat guncangan dahsyat yang menghancurkan infrastruktur di Pulau Nias pada tengah malam tersebut.


Peta segmentasi megathrust di Indonesia pada tahun 2024, menampilkan lokasi megathrust utama. (Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 publikasi Kementerian Pekerja Umum)
 

4. Gempa Bumi Sumatra 1797 — Segmen Mentawai-Siberut (Mw ~8,5–8,7)

Gempa tahun 1797 menjadi bukti awal betapa tingginya risiko bencana di pantai barat Sumatra. Bersumber dari mekanisme sesar naik di segmen Mentawai-Siberut, gempa ini memicu tsunami hebat yang menghantam wilayah Padang dan sekitarnya.

Berdasarkan catatan historis yang dihimpun USGS, bencana ini menewaskan lebih dari 300 orang. Kajian paleoseismologi modern menunjukkan bahwa area patahan gempa ini tumpang tertindih dengan area gempa tahun 1833 yang terjadi hanya 36 tahun kemudian, menunjukkan aktivitas zona subduksi yang sangat aktif di wilayah tersebut.
 

5. Gempa Bumi Sumatra 1861 — Segmen Nias-Simeulue (Mw ~8,5)

Setelah pelepasan energi di Mentawai pada 1797 dan 1833, giliran segmen utara Sumatra yang pecah pada tahun 1861. Berlokasi di zona Sunda Megathrust, gempa ini memicu tsunami besar yang menelan ribuan korban jiwa di sepanjang pesisir barat.

Karakteristik gempa 1861 ini dinilai sangat mirip dengan gempa Nias 2005, baik dari sisi luas wilayah patahan maupun besaran magnitudonya. USGS menempatkan peristiwa ini sebagai salah satu dari dua gempa terbesar di zona Sumatra dalam dua abad terakhir selain gempa 1833.
 
Baca Juga:
Simak! Cara Mitigasi hingga Langkah Penyelamatan Diri saat Gempa
 

6. Gempa Bumi Sumatra 2007 — Segmen Mentawai-Pagai (M 8,5)

Peristiwa ini merupakan rangkaian gempa besar yang mengguncang wilayah Sumatra bagian selatan pada 12 dan 13 September 2007. Berpusat di segmen Mentawai-Pagai, gempa utama bermagnitudo 8,5 terjadi pada 12 September, yang kemudian disusul oleh gempa kuat bermagnitudo 7,9 pada keesokan harinya.

Bencana ini dilaporkan menyebabkan total 23 orang meninggal dunia dan 161 orang lainnya mengalami luka-luka akibat dampak guncangan dan kerusakan bangunan.
 

7. Gempa Bumi Sumatra 1907 — Area Nias-Simeulue (Mw ~8,2)

Gempa ini terjadi pada 4 Januari 1907, dengan besaran yang diperkirakan mencapai 8,2 Mw dan episentrum di dekat Pulau Simeulue.

Peristiwa ini dikategorikan sebagai tsunami earthquake, artinya, guncangan gempa yang dirasakan di darat relatif tidak terlalu kuat, namun menghasilkan tsunami yang sangat besar dan merusak hingga ke seluruh Samudra Hindia. Bencana ini menyebabkan sedikitnya 2.188 korban jiwa di Sumatra.

Tujuh peristiwa besar di atas bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pengingat bahwa Indonesia hidup berdampingan dengan ancaman megathrust yang bisa kembali kapan saja.

Gempa yang melanda Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada 2 April 2026 ini mempertegas bahwa peningkatan kesiapsiagaan, literasi bencana, serta mitigasi yang terstruktur adalah kebutuhan mendesak bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)