Spesifikasi Dark Eagle, Misil Hipersonik AS yang akan Digunakan di Iran

Platform peluncur Dark Eagle, Transporter Erector Launcher (TEL). (Dok. Angkatan Laut AS)

Spesifikasi Dark Eagle, Misil Hipersonik AS yang akan Digunakan di Iran

Riza Aslam Khaeron • 4 May 2026 18:06

Jakarta: Upaya penyelesaian perang Iran melalui jalur diplomasi masih menemui jalan buntu setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan penolakannya terhadap proposal 14 poin terbaru yang diajukan Iran.
 
“Itu tidak bisa saya terima. Saya sudah mempelajarinya, saya sudah mempelajari semuanya, itu tidak dapat diterima,” ujar Trump kepada lembaga penyiaran publik Kan dari Israel pada Senin, 3 Maret 2026, mengutip Times of Israel.

Sebelumnya, Trump dan pihak Iran menyatakan adanya peluang perang kembali meletus. Konflik yang sempat ditangguhkan sejak awal April tersebut terancam berlanjut karena kedua belah pihak belum menemukan titik temu dalam proses negosiasi.

Sebagai langkah waspada terhadap kemungkinan eskalasi, media Bloomberg pekan lalu melaporkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah meminta pengiriman misil hipersonik Dark Eagle milik Angkatan Darat yang pengembangannya sempat tertunda lama ke Timur Tengah, untuk kemungkinan digunakan melawan Iran.

Jika disetujui, hal ini akan menjadi momen pertama kalinya AS mengerahkan misil hipersoniknya ke medan tempur. Lantas, seberapa canggih misil hipersonik tersebut? Berikut ini ulasannya.

Apa itu Dark Eagle?


Platform peluncur Dark Eagle, Transporter Erector Launcher (TEL). (via Army Recognition)?

Dark Eagle
merupakan nama resmi untuk Senjata Hipersonik Jarak Jauh Angkatan Darat AS (LRHW), sebuah sistem rudal hipersonik berbasis darat dengan daya jangkau jauh.

Berdasarkan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), sebuah misil dikategorikan sebagai senjata hipersonik jika memiliki kecepatan minimal Mach 5 atau lima kali kecepatan suara. Sebagai gambaran, kecepatan suara adalah 1.234,8 km/jam, sehingga kecepatan hipersonik minimum mencapai 6.174 km/jam.

Senjata ini dirancang sebagai senjata serangan presisi konvensional—bukan nuklir—untuk menyasar target bernilai tinggi yang bergerak cepat atau sangat terlindungi di lingkungan anti-akses/penolakan area (anti-access/area denial atau A2/AD).

Nama Dark Eagle secara resmi diberikan oleh Angkatan Darat AS pada 24 April 2025. Komponen misil dari LRHW dikembangkan oleh Lockheed Martin dan Northrop Grumman.

Program LRHW lahir dari kebutuhan mendesak AS untuk memiliki alutsista jarak jauh yang mampu menembus sistem pertahanan modern, terutama dalam persaingan dengan negara-negara yang memiliki kemampuan A2/AD kuat seperti Tiongkok dan Rusia.

Kantor Teknologi Kritis dan Kapabilitas Cepat Angkatan Darat AS (RCCTO) dibentuk pada April 2019 guna mempercepat pengembangan berbagai teknologi baru, termasuk kemampuan tempur hipersonik.

Namun, pengembangan senjata hipersonik AS saat ini dinilai tertinggal jauh dari jadwal semula. Hingga kini, senjata tersebut belum dinyatakan siap tempur sepenuhnya, padahal Rusia dan Tiongkok telah lebih dulu mengoperasikan versi mereka sendiri, seperti rudal Oreshnik dan DF-17.
 
Baca Juga:
Daftar Lengkap 14 Poin Proposal Perdamaian Iran untuk Akhiri Perang
 

Spesifikasi Dark Eagle

Melansir Army Recognition, berikut adalah rincian spesifikasi dari sistem Dark Eagle:
 
Aspek Deskripsi Spesifikasi
Jenis Rudal hipersonik darat, peluncuran darat (ground-launched), boost-glide, non-nuklir.
Platform Peluncur Transporter Erector Launcher (TEL) berbasis trailer M870, ditarik oleh kendaraan berat HEMTT.
Kapasitas Peluncur 2 tabung rudal per satu unit TEL.
Sistem Baterai Terdiri dari Pusat Operasi Baterai (BOC), unit TEL, sistem komunikasi, dan kendaraan pengisian ulang (reload).
Struktur Rudal Pendorong berbahan bakar padat dua tahap (two-stage solid-fuel booster) dengan unit luncur Common Hypersonic Glide Body (C-HGB).
Unit Luncur C-HGB; unit luncur tanpa mesin yang mampu bermanuver pada fase luncur.
Hulu Ledak Konvensional; menggunakan efek ledakan tinggi (high-explosive) atau dampak kinetik.
Kecepatan Di atas Mach 5; diperkirakan mampu mencapai Mach 17 (~20.992 km/jam) hingga Mach 20 (~24.696 km/jam).
Jangkauan Lebih dari 2.775 km (sekitar 1.725 mil).
Sistem Pemandu Sistem Navigasi Inersia (INS), kemungkinan dilengkapi pembaruan GPS/saat terbang (in-flight update).
Dimensi & Bobot Panjang estimasi 11–14 m, diameter 0,9–1,1 m, dengan bobot estimasi 15.000–16.000 kg.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)