Indef: Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Butuh Sumber Pertumbuhan Baru

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.

Indef: Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Butuh Sumber Pertumbuhan Baru

Ade Hapsari Lestarini • 3 September 2026 09:56

Jakarta: Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto merupakan target yang ambisius.

Esther mengatakan target tersebut perlu dibandingkan dengan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan catatannya, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021-2025 berada di kisaran 4,8 persen.

Dengan demikian, terdapat kesenjangan yang cukup besar antara pertumbuhan ekonomi rata-rata dalam beberapa tahun terakhir dengan target delapan persen.

"Saya sepakat tadi yang disampaikan oleh Pak Mirdal (CEO Media Group), kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi delapan persen, tentu kita butuh extra effort. Kita harus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru, tidak hanya pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi yang konvensional," ujar Esther dalam pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia bertema "Berlayar di Tengah Gelombang Global, Menjaga Daya Tahan Ekonomi Nasional" yang diselenggarakan Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Menurut Esther, tantangan untuk mencapai target tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri. Kondisi eksternal seperti konflik geopolitik dan fragmentasi perdagangan juga dapat memengaruhi perekonomian Indonesia.

"Namun apakah kita diam saja? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, gejolak ini dengan kompleksitas faktor eksternal maupun internal, harus menjadi hal yang harus kita lalui. Saya rasa inilah pentingnya kenapa Sarasehan 100 Ekonomi diselenggarakan," kata Esther.


Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
 

 

Kredit UMKM masih terbatas


Esther menilai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru dapat didorong melalui sektor keuangan. Ia mencatat pertumbuhan kredit perbankan telah mencapai dua digit atau sekitar 13,58 persen per Juli 2026.

Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh skala usaha. Kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat hanya tumbuh sekitar 1,1 persen.

"Artinya apa? Intermediasi perbankan belum mencakup seluruh skala usaha, terutama di UMKM ini. Nah, kemudian dari sini kita harus tahu, peran KSSK hari ini tidaklah cukup hanya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi kita harus memastikan sektor keuangan ini memang dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," jelas dia.

Menurut Esther, hal tersebut menjadi semakin penting ketika pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Dari sisi fiskal, Esther mencatat pertumbuhan belanja negara mencapai sekitar 11 persen, sedangkan penerimaan perpajakan hanya tumbuh sekitar tiga persen. Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan perlunya pemerintah memastikan ruang fiskal tetap memadai untuk mendukung perekonomian.

"Di sisi lain, belanja pemerintah itu sangat banyak, prioritas programnya dan alokasi anggarannya juga tidak cukup sedikit. Nah, artinya kita harus melakukan disiplin fiskal. Alokasi anggaran difokuskan untuk belanja-belanja yang punya multiplier effect yang lebih luas dalam masyarakat dan sifatnya harus jangka panjang," kata Esther.

Selain menjaga disiplin fiskal, pemerintah dinilai perlu mengarahkan kebijakan ekonomi untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru. Esther mendorong pemerintah tidak hanya berfokus pada program prioritas yang telah berjalan, tetapi juga memperkuat investasi dan ekspor.

Menurut dia, kedua sektor tersebut penting untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu Indonesia menghadapi tekanan dari dinamika ekonomi global.

(Ade Hapsari Lestarini)