Tangkapan layar - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimat pada rapat kerja pemerintah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: ANTARA/Youtube Sekretariat Presiden/aa.
Presiden Prabowo Cerita Jadi Korban Kecerdasan Buatan
Fachri Audhia Hafiez • 8 April 2026 18:20
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto berbagi pengalaman pribadinya menjadi korban teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang mampu memanipulasi suara dan penampilan. Kepala Negara mengungkapkan, teknologi tersebut seringkali digunakan untuk membuat konten yang seolah-olah memperlihatkan dirinya fasih berbahasa asing hingga mahir bernyanyi.
"AI bisa membuat seseorang bicara yang dia tidak bicara. Saya sering loh," kata Prabowo saat memberikan taklimat dalam Rapat Kerja Pemerintah bersama Kabinet Merah Putih di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 8 April 2026.
Prabowo mengaku sempat terkejut saat menemukan video di platform YouTube yang menampilkan dirinya sedang bernyanyi dengan suara merdu. Padahal, ia mengakui secara terbuka bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan olah vokal yang baik.
"Saya ini suaranya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Tapi ada di YouTube saya bisa nyanyi, suaranya bagus banget. Saya saja kaget," tutur Presiden yang disambut tawa peserta rapat.
Tak hanya soal bernyanyi, AI juga memanipulasi sosok Prabowo seolah-olah sedang berpidato menggunakan bahasa Mandarin dan bahasa Arab.
Sambil berseloroh, ia menceritakan bahwa fenomena tersebut sempat ia diamkan karena dianggap memberikan keuntungan citra saat masa kampanye berlangsung.
"Ada lagi, saya berpidato dalam bahasa Mandarin, ya kan. Ada lagi saya berpidato dengan bahasa Arab, luar biasa. Karena waktu itu kampanye, saya kira kalau di daerah-daerah tapal kuda ini mungkin menguntungkan, jadi saya diam juga. Kalau menguntungkan kita diam," kelakar Prabowo.
.jpg)
Presiden Prabowo Subianto memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih berserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye.
Meski ada sisi jenaka, Presiden mengingatkan bahwa perkembangan AI dan sistem informatika digital memiliki sisi gelap yang berbahaya.
Ia menekankan bahwa hoaks dan fitnah yang diamplifikasi oleh teknologi kini menjadi instrumen baru untuk merusak stabilitas suatu negara tanpa perlu serangan militer fisik.
Menurut Prabowo, penggunaan ribuan akun robot yang didukung AI dapat menciptakan efek echo chamber. Hal ini mampu membesarkan isu kecil menjadi narasi masif yang seolah-olah didukung oleh banyak pihak.
"Jadi yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang, mungkin 1.000 orang, mungkin 5.000 orang bisa bikin heboh. Nah ini namanya echo chamber. Ada ini dalam pembelajaran intelijen, ini ada, bagaimana merusak sebuah negara lain," ujar Prabowo.