Podium Media Indonesia: Jalan Ketiga tanpa Amerika

Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa/Media Indonesia/Ebet

Podium Media Indonesia: Jalan Ketiga tanpa Amerika

Media Indonesia • 9 April 2026 06:09

ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi. Kini, angin itu berembus berlawanan arah, pelan, dan mudah-mudahan pasti.

Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron menandai perubahan itu. Macron bilang sekaligus mengajak dunia untuk tak lagi bergantung sepenuhnya pada Amerika Serikat. Kata dia, sudah saatnya semua negara bersatu, berdiri bersama untuk mencapai kemandirian tanpa Amerika.

Pernyataan itu Macron sampaikan dalam pertemuan dengan mahasiswa di Universitas Yonsei, Seoul, Korsel, beberapa waktu lalu. "Dengan agenda seperti itu, yang dianut Korea Selatan, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya, Kanada, Jepang, India, Brasil, Australia, kita mulai memiliki semacam jalan ketiga (yang independen dari AS)," ucapnya.

Macron tentu tak asal bicara begitu lugas. Ia sampai pada kesimpulan yang barangkali tak diperkirakan banyak orang bahwa sudah waktunya AS ditinggalkan sendirian. Semua negara tak boleh lagi bergantung pada mereka atau nanti menderita dalam hal apa pun akibat inkonsistensi Washington.

Pernyataan Macron itu bukan sekadar retorika diplomatik. Itu sinyal, penanda, bahkan lebih tepat disebut sebagai dentang lonceng bahwa kesetiaan lama pada AS tengah diuji kenyataan baru. Prancis bukan negara sembarangan. Mereka sekutu utama AS, berdiri dalam barisan yang sama sejak Perang Dunia II, sekaligus pilar utama NATO. Apa yang Amerika mau, Prancis biasanya mengiakan. Apa yang Amerika kehendaki, Prancis cenderung mengamini. Begitulah hubungan keduanya selama ini.

Namun, sejarah juga mencatat Prancis kerap punya naluri independensi. Dari era Charles de Gaulle hingga Macron hari ini, mereka tak nyaman menjadi bayang-bayang. Ketidaknyamanan itu pun menemukan momentumnya. Di bawah kendali Donald Trump, AS bukan lagi sekutu yang mudah ditebak, bukan pula teman baik dalam persekutuan.
 


Amerika berubah menjadi kekuatan yang lebih mementingkan diri sendiri. America First dengan mengabaikan harmoni global. Egoistis. Semaunya. Tarif dagang mereka jadikan senjata, aliansi alat tawar, dan konflik sebagai panggung kekuasaan. Puncaknya, bersama sang bestie, Israel, mereka melakukan agresi ke negara berdaulat penuh, Iran.

Serangan AS ke Iran kiranya menjadi titik balik penting. Ketika bara perang menyala, para sekutu Barat tak bergegas ikut meniup api. Mereka diam, bahkan menolak terlibat agresi 'Paman Sam'. Tak cuma Prancis, negara-negara besar Eropa lainnya juga memilih berseberangan. Spanyol termasuk yang paling tegas. PM Pedro Sanchez berani menyebut agresi Amerika-Israel ke Iran sebagai sebuah bencana yang harus dihentikan. Mereka menutup ruang udara mereka bagi pesawat Amerika untuk menggempur Iran. Austria begitu juga.

Inggris, sekutu terdekat AS selama ini, juga membuat jarak. Mereka menolak permintaan Trump untuk ikut menyerang Iran. Mereka bergeming meski seperti biasa ketika kemauannya bertepuk sebelah tangan, Trump merendahkan, menghina mereka. Inggris pun tak memedulikan ancaman Trump keluar dari NATO. Ancaman yang dibumbui dengan ejekan bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu hanya macan kertas. Bergigi, tapi ompong.

Trump murka, PM Inggris Keir Stramer woles saja. Stramer berujar, tekanan apa pun yang datang, apa pun kegaduhannya, ia hanya akan bertindak untuk kepentingan nasional Inggris. Diplomatis, tapi menghunjam. Jerman satu pandangan. Terserah. Bodo amat Begitu kira-kira mereka menyikapi murka Trump.

Reaksi dunia atas agresi AS-Israel ke Iran ialah penegasan bahwa sebenarnya dunia mulai jengah pada satu kekuatan yang terus merasa paling digdaya, paling berkuasa, dan paling berhak mengatur. Hegemoni kini benar-benar dipandang sebagai sumber ketegangan. Dalam bahasa sederhana; terlalu lama tangan memegang kendali, tangan-tangan lain akan mencari cara untuk melepaskan diri.

Legitimasi moral Amerika kian dipersoalkan. Standar ganda yang kerap ditunjukkan dalam menyikapi konflik membuat narasi AS sebagai 'penjaga demokrasi' kian sumbang terdengar. Agresi mereka ke Iran terus dipermasalahkan, tak cuma oleh lawan, tapi juga oleh negara-negara sekutu. Bahkan oleh mayoritas rakyat Amerika sekalipun. Itu bukan perangnya Amerika. Itu perangnya Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu, tapi dunia yang harus menanggung akibat.


Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa/Media Indonesia/Ebet

Mantan Sekjen PBB Kofi Annan pernah menegaskan perdamaian dunia membutuhkan multilateralisme, kerja sama setara antarnegara, bukan dominasi satu kekuatan atas yang lain. Dunia yang seimbang ialah dunia yang damai, bukan dunia yang ditentukan satu pusat kekuasaan. Dalam karyanya bertajuk Perpetual Peace, filsuf Jerman Immanuel Kant berpendapat bahwa perdamaian dunia hanya mungkin tercapai jika negara-negara hidup dalam tatanan yang setara, saling menghormati kedaulatan, bukan saling menguasai.

Iran telah mengajarkan kepada dunia bahwa siapa pun dia, sehebat apa pun kekuatannya, harus dilawan jika semena-mena. Prancis dan kawan-kawan kiranya sudah membuka pintu kesadaran akan pentingnya keseimbangan dunia. Namun, jalan ke arah sana pasti tak akan mulus. Belum tentu juga mereka konsisten pada sikap mereka.

Apa pun, dinamika hari-hari ini mengonfirmasi bahwa dunia tidak ingin duduk diam menunggu instruksi. Amerika kini tampak seperti a lone conductor without an orchestra, dirigen tanpa pemain musik yang sepenuhnya patuh. Semoga benar bahwa zaman hegemoni tunggal sedang menuju senja kala.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)