Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat bertemu istri almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng atau Eyang Meri. Dok. Istimewa
Kapolri: Eyang Meri Adalah Pelita Keteladanan dan Penjaga Muruah Polri
Siti Yona Hukmana • 3 February 2026 18:11
Jakarta: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya istri almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng atau Eyang Meri. Kapolri menyebut Eyang Meri sebagai sosok keteladanan bagi Korps Bhayangkara.
"Polri sangat kehilangan sosok Eyang Meri. Beliau bukan sekadar saksi sejarah, tetapi juga pelita keteladanan bagi kami. Semasa hidupnya, beliau menjadi inspirasi nyata bagi seluruh generasi penerus Polri dan Bhayangkari untuk terus menjaga muruah institusi," kata Kapolri dalam keterangannya, Selasa, 3 Februari 2026.
Kepala Korps Bhayangkara ini berharap segala jasa dan amal ibadah almarhumah diterima, serta mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT.
"Kepada keluarga besar yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan," ujar mantan Kapolda Banten itu.
Baca Juga:
Kabar Duka, Istri Jenderal Hoegeng Meninggal Dunia |
%20Hoegeng%20Iman%20Santoso%2C%20Meriyati%20Hoegeng%20atau%20Eyang%20Meri%2C%20meninggal%20dunia_%20Dok_%20Istimewa.jpeg)
Istri almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng atau Eyang Meri, meninggal dunia. Dok. Istimewa
Eyang Meri meninggal di usia 100 tahun. Eyang Meri mengembuskan napas terakhir usai menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, sekitar pukul 13.24 WIB, karena sakit.
Jenazah Eyang Meri akan disemayamkan di Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat. Eyang Meri dimakamkan di Makam Giritama Tonjong, Bogor, Rabu, 4 Februari 2026.
Eyang Meri lahir 23 Juni 1925 dan menikah dengan Jenderal Hoegeng di Yogyakarta pada 31 Oktober 1946. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai tiga anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.
Kesederhanaan Eyang Meri membuatnya menjadi sosok pedoman dan suri teladan bagi para insan Bhayangkara di Indonesia. Tak jarang, banyak tokoh selalu menyambangi rumah Eyang Meri menjelang hari Bhayangkara setiap 1 Juli.