Podium Media Indonesia: Sibuk Mengurus Akibat

Dewan Redaksi Media Group, Ahmad Punto. Foto: Media Indonesia/Ebet.

Podium Media Indonesia: Sibuk Mengurus Akibat

Media Indonesia • 5 August 2026 06:27

Ada kebiasaan yang sulit dihilangkan di negeri ini. Apa itu? Kita lebih sibuk mengurus akibat ketimbang mencegah sebab. Banyak contohnya. Hampir di semua sektor dan di setiap zaman hal itu terjadi. Terus-menerus hingga menjadi semacam kebiasaan.

Begitu korupsi terbongkar, kita sibuk mengejar pelakunya. Begitu kebakaran hutan meluas, kita bergegas memadamkan. Begitu judi online merajalela, kita langsung memblokir situs. Semua tampak bergerak cepat. Hanya satu yang nyaris tak pernah bergerak, yaitu memperbaiki akar persoalannya.

Pola itu berulang hampir di setiap persoalan. Kita selalu tampak cepat ketika keadaan sudah darurat. Namun, dalam situasi normal, semangat memperbaiki sistem justru selalu tersendat. Akibatnya, persoalan yang sama terus datang bergiliran.

Lihatlah kasus korupsi. Tahun ini kepala daerah kembali bergantian ditangkap KPK. Hanya dalam waktu tujuh bulan, sebanyak 12 kepala daerah ditersangkakan dalam perkara rasuah. Tidak lagi memakai baju safari, kini rompi oranye yang menjadi seragam mereka.
 


Publik marah, dorongan agar hukuman bagi koruptor diperberat kembali menguat. Namun, beberapa waktu kemudian, kepala daerah lain kembali menyusul dengan pola yang hampir sama. Seolah-olah kita hanya menunggu pelaku berganti, tetapi enggan membongkar mekanisme yang membuat korupsi terus menemukan ruang hidupnya.

Begitu pula dalam perkara judi online. Ribuan situs diblokir, rekening dibekukan, pelaku ditangkap. Besoknya muncul situs baru, rekening baru, pelaku baru. Yang dikejar terus-menerus ialah akibatnya, bukan ekosistem yang membuat bisnis haram itu tetap tumbuh subur.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga memberikan pelajaran yang serupa. Ketika asap mulai menyelimuti langit, semua bergerak memadamkan. Brigade khusus Manggala Agni dikerahkan, pesawat water bombing disiagakan, hujan buatan disiapkan. Pun, individu atau korporasi yang diduga membakar lahan dikejar dan ditindak.

Namun, setelah hujan turun dan asap menghilang, perhatian ikut menguap. Tahun berikutnya, titik api muncul lagi dari kawasan dan sebab yang nyaris sama. Saat itulah kita kembali bergerak bersama. Seolah-olah yang selalu kita tunggu memang kebakarannya, bukan bagaimana mencegahnya sejak awal.
 
Ada pepatah lama mengatakan, 'seribu orang sibuk menebas ranting, tetapi hanya satu yang benar-benar menghantam akarnya'. Kiranya, itulah yang sedang kita alami. Kita tampak lebih senang menjadi bagian dari yang 'seribu orang' itu, yang sering melewatkan akar masalah.

Tidak bisa dimungkiri, mengurusi akibat memang lebih mudah. Hasilnya cepat terlihat. Ada angka yang bisa diumumkan sebagai bukti bahwa negara telah bekerja. Sebaliknya, membenahi akar persoalan jauh lebih berat. Ia sering kali tidak populer, butuh ketekunan, dan bahkan bisa mengganggu banyak kepentingan. Karena itulah, barangkali, pilihan kedua lebih sering ditunda.

Sejatinya, persoalannya bukan karena negara tidak bekerja. Justru sebaliknya, negara terlihat sangat sibuk. Yang keliru ialah arah kesibukannya. Nyatanya, kita sibuk, tapi tidak banyak bergerak maju. Ibarat berlari di atas treadmill. Berkeringat, lelah, merasa sudah bekerja keras, tetapi tidak pernah benar-benar berpindah tempat.

Celakanya, logika perumusan kebijakan negara juga ikut terbentuk ke arah yang sama. Yang dikejar ialah kebijakan yang cepat terlihat hasilnya, bukan kebijakan yang benar-benar menyelesaikan masalah. Kita terlalu sering bekerja setelah masalah meledak, tetapi jarang memikirkan bagaimana agar masalah itu tidak pernah meledak.

Tidak mengherankan kita semakin akrab dengan istilah satuan tugas (satgas), operasi, razia, atau penindakan. Semua penting. Namun, semua itu hanyalah jawaban atas akibat, bukan penyebab.

Akibatnya, kita lebih senang merayakan penindakan daripada pencegahan. Lebih bangga menghitung berapa banyak yang ditangkap ketimbang memastikan mengapa kejahatan itu terus berulang. Yang penting ada tindakan, ada rapat, ada operasi, ada penangkapan. Soal apakah persoalannya benar-benar selesai, itu urusan nanti.

Kita acap menganggap penindakan sebagai garis finis, padahal seharusnya ia hanya menjadi pintu masuk untuk membenahi sistem. Hasil nyata pembenahan sistem itulah yang semestinya dirayakan dan dibanggakan, bukan seberapa sibuk aparat bekerja.

Barangkali itulah sebabnya kita tidak pernah bisa menuntaskan masalah. Bukan karena persoalannya terlalu rumit, melainkan karena kita terlalu cepat merasa puas setiap kali gejalanya hilang. Padahal, gejala dan akibatnya bisa reda hari ini, sementara penyebabnya diam-diam sedang menyiapkan persoalan berikutnya.

(Fachri Audhia Hafiez)