Pemimpin Oposisi Taiwan Terima Undangan Xi Jinping untuk Kunjungi Tiongkok

Pemimpin partai Kuomintang asal Taiwan, Cheng Li-wun. (CNA / Focus Taiwan)

Pemimpin Oposisi Taiwan Terima Undangan Xi Jinping untuk Kunjungi Tiongkok

Muhammad Reyhansyah • 30 March 2026 12:55

Taipei: Pemimpin partai oposisi terbesar Taiwan, Kuomintang (KMT), dijadwalkan melakukan kunjungan ke Tiongkok pada April setelah menerima undangan dari Presiden Xi Jinping. 

Kunjungan ini akan berlangsung sekitar satu bulan sebelum rencana pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing.

Mengutip AsiaOne, Senin, 30 Maret 2026, mantan anggota parlemen Cheng Li-wun yang terpilih sebagai ketua KMT pada Oktober lalu, dinilai menunjukkan arah kebijakan yang lebih mendekat ke Beijing dibanding pendahulunya, Eric Chu, yang tidak melakukan kunjungan ke Tiongkok selama masa jabatannya sejak 2021.

Dalam pernyataannya pada Senin, KMT menyebut Cheng menyampaikan rasa terima kasih atas undangan tersebut dan “dengan senang hati” menerimanya.

Ia juga “menyatakan harapan agar kedua pihak (KMT dan Partai Komunis Tiongkok) dapat bekerja sama untuk mendorong perkembangan damai hubungan lintas selat, memperkuat pertukaran dan kerja sama, menjaga perdamaian di Selat Taiwan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”

Kantor berita pemerintah Tiongkok, Xinhua, melaporkan bahwa Cheng akan melakukan kunjungan pada 7 hingga 12 April, dengan agenda di Beijing, Shanghai, dan Provinsi Jiangsu.

Pengumuman ini muncul di tengah upaya pemerintah Presiden Taiwan, Lai Ching-te, untuk mendapatkan persetujuan parlemen—yang dikuasai oposisi—atas tambahan anggaran pertahanan sebesar 40 miliar dolar AS.

KMT menyatakan mendukung penguatan pertahanan Taiwan, namun menegaskan tidak akan menyetujui anggaran tanpa rincian yang jelas.

Kunjungan ini juga berlangsung menjelang rencana perjalanan Trump ke Tiongkok pada pertengahan Mei, yang sebelumnya ditunda akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Hingga kini, pihak Tiongkok belum mengonfirmasi agenda tersebut.

Tiongkok, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, menolak berkomunikasi dengan pemerintahan Lai yang disebutnya sebagai “separatis,” namun tetap membuka komunikasi dengan tokoh-tokoh senior KMT.

Baik Xinhua maupun KMT dalam pernyataannya menyebut Xi dengan gelarnya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis, bukan sebagai kepala negara.

Secara historis, pemerintahan Republik Tiongkok yang dipimpin KMT mundur ke Taiwan pada 1949 setelah kalah dalam perang saudara melawan pasukan komunis pimpinan Mao Zedong. Hingga kini, belum ada perjanjian damai atau gencatan senjata yang ditandatangani, dan kedua pihak tidak saling mengakui pemerintahan masing-masing.

Pada 2015, Presiden Taiwan saat itu dari KMT, Ma Ying-jeou, mengadakan pertemuan bersejarah dengan Xi di Singapura.

Baca juga:  Taiwan Deteksi Lagi Aktivitas Pesawat Militer Tiongkok usai Dua Pekan Mereda

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)