PM Kanada Sebut Referendum Alberta Langkah Berbahaya, Mirip dengan Brexit

PM Kanada Mark Carney. (Anadolu Agency)

PM Kanada Sebut Referendum Alberta Langkah Berbahaya, Mirip dengan Brexit

Willy Haryono • 26 May 2026 11:24

Ottawa: Perdana Menteri Mark Carney menyebut rencana referendum pemisahan Alberta dari Kanada sebagai langkah berbahaya dan membandingkannya dengan referendum Brexit yang membuat Inggris keluar dari Uni Eropa.

Pernyataan itu disampaikan Carney pada Senin, 25 Mei 2026, menjelang rencana referendum yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Oktober mendatang.

Carney, yang pernah memimpin Bank Sentral Inggris saat proses Brexit berlangsung, memperingatkan warga Alberta agar tidak menggunakan isu pemisahan sebagai alat tawar politik terhadap pemerintah federal di Ottawa.

“Kita harus sangat berhati-hati mengenai hal ini,” kata Carney seperti dikutip BBC, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia mengatakan banyak warga Inggris kini menyesali dampak Brexit yang sebelumnya tidak mereka perkirakan saat referendum digelar pada 2016.

Carney menegaskan akan berkampanye untuk mempertahankan persatuan Kanada dalam beberapa bulan ke depan.

Referendum Alberta

Warga Alberta dijadwalkan menentukan pilihan apakah tetap menjadi bagian Kanada atau melanjutkan ke referendum mengikat mengenai pemisahan wilayah di masa mendatang.

Kelompok pro-kemerdekaan Alberta menilai pemerintah federal selama ini mengabaikan kepentingan provinsi kaya minyak tersebut. Mereka menuding kebijakan lingkungan Ottawa menghambat pembangunan jaringan pipa minyak dan gas serta pengelolaan sumber daya alam Alberta.

Rencana referendum muncul setelah gerakan pro-kemerdekaan berhasil mengumpulkan lebih dari 300 ribu tanda tangan petisi tahun ini.

Namun pengadilan sempat membatalkan petisi tersebut setelah masyarakat adat First Nations memenangkan gugatan hukum karena merasa tidak dilibatkan dalam proses konsultasi.

Meski demikian, Premier Alberta Danielle Smith mengatakan pihaknya tetap akan melanjutkan pengajuan referendum pemisahan wilayah. Smith menyebut terdapat petisi tandingan yang ditandatangani lebih dari 400 ribu orang yang mendukung Alberta tetap berada di dalam Kanada.

Mayoritas Warga Masih Ingin Bertahan

Danielle Smith mengatakan dirinya tidak sepakat dengan putusan pengadilan dan menilai warga Alberta berhak menyuarakan pendapat melalui plebisit.

Meski begitu, ia mengaku tetap akan berkampanye agar Alberta tetap menjadi bagian dari Kanada karena hubungan dengan pemerintah federal disebut mulai membaik.

Hasil survei lembaga Angus Reid yang dirilis Senin menunjukkan sekitar tiga dari lima warga Alberta memilih tetap bersama Kanada.

Sebagai perbandingan, referendum Brexit pada 2016 menghasilkan 52 persen suara mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan 48 persen memilih bertahan. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Alberta Siapkan Referendum Pemisahan Diri dari Kanada pada Oktober 2026

(Willy Haryono)