Kepala intelijen Inggris menyebut Rusia telah kehilangan hampir 500.000 tentara sejak invasi Ukraina pada Februari 2022. (Anadolu Agency)
Intelijen Inggris Sebut Rusia Kehilangan Hampir 500.000 Tentara di Ukraina
Muhammad Reyhansyah • 29 May 2026 10:17
London: Kepala badan intelijen Government Communications Headquarters (GCHQ) Inggris, Anne Keast-Butler, mengatakan Rusia telah kehilangan hampir 500.000 personel militer sejak melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Mengutip The Independent, Kamis, 28 Mei 2026, Keast-Butler menyampaikan estimasi tersebut dalam pidato publik pertamanya di Bletchley Park, Inggris.
Menurutnya, besarnya jumlah korban menunjukkan Rusia menghadapi tekanan besar di medan perang Ukraina.
Keast-Butler bahkan menilai kondisi tersebut menandakan Presiden Rusia Vladimir Putin sedang mengalami kemunduran militer.
Selain menyoroti perang di Ukraina, Keast-Butler memperingatkan bahwa Rusia berpotensi meningkatkan ancaman terhadap Eropa melalui operasi hibrida yang menargetkan infrastruktur penting, rantai pasok, dan institusi publik.
Ia menuduh badan keamanan Rusia meningkatkan aktivitas spionase serta operasi siber di berbagai negara Eropa, termasuk Inggris.
“Risiko salah perhitungan saat ini setinggi yang pernah saya lihat,” kata Keast-Butler dalam pidatonya.
Berbagai penilaian intelijen Barat dan analis independen memang menunjukkan Rusia dan Ukraina sama-sama kehilangan ratusan ribu personel sejak perang dimulai. Namun, kerugian Rusia diperkirakan lebih besar.
Media independen Rusia, Meduza dan Mediazona, sebelumnya memperkirakan hampir 352.000 tentara Rusia tewas hingga akhir 2025.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan negaranya kehilangan sekitar 55.000 tentara hingga Februari tahun ini. Rusia sendiri belum memperbarui data resmi korban militernya sejak Januari 2023.
Dalam pidato yang sama, Keast-Butler juga memperingatkan perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menjadi alat baru dalam konflik modern.
Ia menilai negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok terus berinvestasi besar dalam kemampuan siber, intelijen, dan teknologi yang dapat digunakan untuk kepentingan militer maupun operasi pengaruh di luar medan perang.
Baca juga: Zelensky Surati Trump, Minta Tambahan Sistem Pertahanan Udara AS