Trump Klaim Sejumlah Negara Siap Kirim Kapal Perang untuk Buka Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: The White House/Viory

Trump Klaim Sejumlah Negara Siap Kirim Kapal Perang untuk Buka Selat Hormuz

Fajar Nugraha • 17 March 2026 09:51

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim bahwa banyak negara tengah bersiap membantu AS untuk membuka kembali blokade Selat Hormuz.

Meski demikian, Trump pada 16 Maret 2026 menolak menyebutkan identitas negara-negara tersebut dengan alasan keamanan guna menghindari potensi target serangan balasan.

"Sejumlah negara telah memberi tahu saya bahwa mereka sedang dalam perjalanan. Beberapa sangat antusias, termasuk negara-negara yang telah kita bantu selama bertahun-tahun," ujar Trump di Gedung Putih, seperti dikutip Anadolu, Selasa, 17 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa komitmen telah diterima, namun pengumuman resmi akan dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam waktu dekat.

Trump mengungkapkan bahwa proses pengerahan pasukan memakan waktu karena jarak tempuh yang jauh, meskipun beberapa pasukan lokal diklaim sudah mulai berpartisipasi. Trump mengatakan telah berkomunikasi dengan Presiden Emmanuel Macron dan menilai dukungan Prancis berada di level 8 dari 10.

Trump mengaku terkejut dengan keengganan awal Inggris. "Saya bertanya, 'Mengapa Anda tidak mengirim kapal?' dan dia (PM Inggris) sebenarnya tidak ingin melakukannya," kata Trump.

Ia menegaskan bahwa Washington telah lama melindungi sekutunya melalui NATO, sehingga bantuan militer di Selat Hormuz dianggap sebagai konsekuensi logis.

Dalam pernyataannya, Trump menyoroti bahwa Amerika Serikat hanya mengimpor kurang dari satu persen minyaknya melalui Selat Hormuz. Sebaliknya, negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan sejumlah negara Eropa jauh lebih bergantung pada jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global tersebut.

Sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu, sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap harinya. Penutupan jalur oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) telah memicu lonjakan harga energi di pasar internasional secara signifikan.

Meski Trump mendorong pembentukan kerjasama tim untuk mengirim kapal perang dan penyapu ranjau, beberapa pemimpin dunia menunjukkan sikap hati-hati.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan pada Senin bahwa Britania Raya tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas. Ia menekankan bahwa pengiriman pasukan harus didasarkan pada mandat hukum yang kuat.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, secara tegas menolak pengiriman pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz. Menurutnya, langkah tersebut berisiko menyeret Jerman ke dalam konflik langsung dengan Iran.

Hingga saat ini, belum ada satu pun negara yang secara publik menyatakan komitmen penuh untuk bergabung dalam koalisi militer pimpinan AS guna melakukan konfrontasi fisik di wilayah perairan tersebut.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)