Penerapan 'Tol Bitcoin' di Selat Hormuz Bikin Harga Bitcoin Melejit

Ilustrasi, bitcoin. Foto: theguardian.com

Penerapan 'Tol Bitcoin' di Selat Hormuz Bikin Harga Bitcoin Melejit

Husen Miftahudin • 15 April 2026 15:23

Jakarta: Harga bitcoin mencatatkan lonjakan enam persen hingga mendekati level USD75 ribu pada perdagangan Senin, 13 April 2026, menyusul fenomena short squeeze masif yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS). Kemudian, Iran merespons dengan kebijakan tak terduga, yakni mewajibkan pembayaran 'Tol Bitcoin' bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur tersebut.

Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan dinamika geopolitik ini tidak hanya memicu likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar, tetapi juga mengukuhkan fungsi kripto sebagai alat strategis dalam ekonomi modern. Menurut dia, lonjakan harga bitcoin dan aset kripto lain mencerminkan semakin kuatnya posisi aset kripto dalam merespons tekanan global.

"Kenaikan harga bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas," ujar Antony dalam keterangan tertulis, Rabu, 15 April 2026.

Langkah Iran mengenakan tarif setara USD1 per barel dalam bentuk bitcoin menciptakan permintaan organik yang masif secara instan. Sistem pembayaran berbasis blockchain ini digunakan Iran untuk memastikan transaksi tetap berjalan dan strategi untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan AS.

Di sisi lain, inflasi (CPI) AS yang naik ke 3,3 persen pada periode Maret 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tren satu-dua tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran 2,4 persen hingga 3,0 persen.

Kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah meningkatkan ekspektasi inflasi akan tetap tinggi, sehingga mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti bitcoin, serta memperkuat narasi sebagai safe haven di tengah tekanan pada nilai mata uang konvensional.
 

Baca juga: Bitcoin Tergelincir setelah Tembus USD76 Ribu
 

ETF Bitcoin spot kebanjiran likuiditas hingga USD1,94 miliar


Pada kisaran harga USD74 ribu hingga USD75 ribu saat ini, pergerakan bitcoin menunjukkan penguatan turut didukung oleh arus masuk dana (inflow) ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar USD1,94 miliar sepanjang Maret hingga April. Dukungan likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.

Sentimen positif ini turut mendongkrak aset kripto lainnya. Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) terdongkrak naik delapan persen ke level USD2.380, diikuti Solana (SOL) yang menguat 5,2 persen ke USD86,60, serta BNB yang naik 3,2 persen ke posisi USD615,50.

Menurut Antony, dinamika ini menunjukkan industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsinya. "Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional," sebut dia.

"Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global," tambah dia.


(Ilustrasi. Foto: dok KBI)
 

Investor mesti kedepankan manajemen risiko


Meski demikian, Antony mengingatkan volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Faktor lain seperti kebutuhan likuiditas menjelang Producer Price Index dan penjualan pajak di AS, serta perubahan kebijakan moneter berpotensi memengaruhi pergerakan harga jangka pendek.

"Oleh karena itu, investor diimbau untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat," ucap dia mengingatkan.

Secara historis, April merupakan bulan positif bagi bitcoin, dengan rata-rata kenaikan 69 persen sejak 2013 ditutup di zona hijau. Namun, tahun ini pergerakan pasar lebih dipengaruhi faktor geopolitik dan makroekonomi, serta dampak lanjutan dari koreksi harga tahun lalu. Hingga kuartal kedua 2026, bitcoin tercatat naik sebesar 8,64 persen.

Antony melihat perkembangan ini mencerminkan pergeseran peran kripto dari sekadar instrumen investasi menjadi bagian dari dinamika ekonomi global.

Dalam hal ini, Indodax berkomitmen untuk terus menyediakan platform yang aman dan transparan, serta mendukung investor Indonesia dalam memahami dan merespons peluang di industri aset digital secara lebih bijak, guna mendorong terciptanya manfaat jangka panjang bagi para member.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)