Trump Sebut 32.000 Orang Tewas dalam Protes Iran, Teheran Bantah

Tangkapan layar video yang menunjukkan jenazah korban protes Iran bulan Januari. (via NBC)

Trump Sebut 32.000 Orang Tewas dalam Protes Iran, Teheran Bantah

Riza Aslam Khaeron • 22 February 2026 11:08

Washington DC: Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 20 Februari 2026, menyatakan bahwa 32.000 orang tewas dalam gelombang protes terbaru di Iran. Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers di tengah pembahasan isu kebijakan tarif dan kemungkinan langkah militer terhadap Teheran.

Melansir CBS News pada Jumat, 20 Februari 2026, Trump mengatakan bahwa 32.000 orang terbunuh dalam periode waktu yang relatif singkat selama aksi unjuk rasa anti-pemerintah di Iran. Ia tidak menyebutkan sumber data tersebut.

“Sebanyak 32.000 orang terbunuh dalam periode waktu yang relatif singkat,” kata Trump kepada wartawan.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan bahwa rakyat Iran sangat berbeda dengan para pemimpinnya dan menyebut situasi tersebut sebagai kondisi yang sangat menyedihkan.

“Rakyat Iran sangat berbeda dengan para pemimpin Iran, dan ini adalah situasi yang sangat, sangat, sangat menyedihkan,” ujarnya.

Protes besar-besaran mengguncang Iran sejak Januari dan memuncak pada 8 dan 9 Januari, yang disebut-sebut sebagai hari paling berdarah sejak pemerintahan Republik Islam berdiri pada 1979. Pemadaman internet secara luas menyulitkan verifikasi jumlah korban tewas, luka-luka, maupun penangkapan.

Sebelumnya, telah terdapat beberapa laporan estimasi korban jiwa terkait gelombang protes pada bulan Januari lalu dimana beberapa darinya mengungkit angka yang hampir sama dengan Trump. 
 

Baca Juga:
Trump Beri Iran Deadline 10–15 Hari untuk Capai Kesepakatan Nuklir

CBS News sebelumnya melaporkan bahwa sedikitnya 12.000 hingga 20.000 orang kemungkinan tewas sepanjang rangkaian protes, berdasarkan dua sumber, termasuk satu sumber di dalam Iran.

Organisasi non-pemerintah Human Rights Activists News Agency (HRANA) memperkirakan 7.015 kematian hingga 15 Februari dan menyebut 11.744 kasus kematian lainnya masih dalam peninjauan. Iran International, jaringan berita yang berseberangan dengan pemerintah Iran, memperkirakan lebih dari 36.500 orang tewas.

Beberapa media internasional lainnya seperti The Guardian melaporkan angka 33.000 ribu orang tewas, sedangkan Time Magazine mengestimasi sekitar 30.000 orang. Adapun Bloomberg yang mengutip pakar dari PBB memberitakan angka 20.000 ribu jiwa.

Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan angka korban jauh lebih rendah. Hingga 21 Januari, pemerintah Iran mengklaim 3.117 orang tewas dalam apa yang mereka sebut sebagai operasi melawan aksi kerusuhan dan terorisme.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Sabtu, 21 Februari 2026, menuntut bukti atas klaim Trump tersebut. Mengutip pernyataannya melalui media sosial X, Araghchi mengatakan Teheran telah memenuhi “janji transparansi penuh” dengan merilis daftar resmi yang mendokumentasikan 3.117 korban, termasuk sekitar 200 personel keamanan.

“Jika ada yang meragukan keakuratan data kami, silakan sampaikan bukti apa pun,” katanya.

Pernyataan Trump mengenai jumlah korban jiwa disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Ia menyebut sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Sementara itu, Iran dan Amerika Serikat kembali memulai perundingan nuklir di Muscat, Oman, dan dilanjutkan di Jenewa di bawah mediasi Oman.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)